Rabu, 24 Desember 2014

KESENIAN SRANDUL : SENI BERNAFAS ISLAM DARI WONOGIRI ( HAMPIR TINGGAL KENANGAN )


KESENIAN SRANDUL : SENI BERNAFAS ISLAM DARI WONOGIRI ( HAMPIR TINGGAL KENANGAN )



Wonogiri adalah sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Sejumlah kesenian rakyat pernah hidup di daerah ini. Diantaranya adalah kesenian Srandul atau juga sering disebut Srandil. Srandul adalah sebuah wujud kesenian drama tari rakyat yang bernafaskan Islam. Apabila ditengok dari syair dan adegan yang di dalamnya menunjukkan adanya upaya dakwah untuk perbaikan pendidikan moral, agama, etika, dan estetika.  Dalam setiap tembangnya secara tersurat menggambarkan tentang tuntunan perjalanan hidup manusia agar selamat dunia dan akhirat sesuai dengan ajaran Islam.

Dari Wonogiri kesenian Srandul ini sempat menyebar ke beberapa daerah di sekitarnya antara lain Ponorogo, Klaten, Karang Anyar, Gunung Kidul, Sleman, Bantul, Temanggung, dan lain-lain. Kesenian Srandul ini juga sempat berkembang di Kota Gede, Yogyakarta. Hal ini diawali dengan pementasan kelompok Srandul dari Gunung Kidul di Kota Gede sekitar tahun 1941. Rombongan ini sempat menginap di kampung Bumen, Kota Gede dan melakukan gladi resik (latihan sebelum pertunjukan). Rakyat setempat  rupanya cukup tertarik dengan kesenian ini dan ikut berlatih. Rakyat Basen, sebuah kampung di Kota Gede lainnya, kemudian membentuk group Srandul sendiri yang dinamakan “Purba Budaya”.

Srandul adalah kesenian yang terbentuk di Wonogiri sekitar tahun 1920-an. Pertunjukan Srandul biasanya melibatkan adanya seni gamelan, suara, teater, dan tari. Gamelan yang digunakan biasanya berlaras slendro. Juga melibatkan alat musik lainnya seperti kendang, angklung, kenthongan, dan rebana (terbang). Dialog-dialog yang tercipta dalam cerita sebagian mengalir dalam wujud shalawat dan tembang Jawa yang berisi nasihat atau petuah tentang bagaimana menjadi orang Jawa yang baik, yaitu sesuai ajaran Islam. Dalam pentasnya, kadang kesenian ini dilaksanakan bersama pertunjukan “Kethek Ogleng” dan dilanjutkan dengan penampilan pelawak “badutan”. Oleh karena itu tidak heran, sebagian masyarakat ada yang menyebut wujud kesenian ini secara generalis sebagai “badutan”.

Biasanya kesenian ini dimulai dengan memanjatkan doa kepada Gusti Allah dengan permohonan agar diberi ampunan dan pertunjukan bisa berjalan lancar hingga tuntunannya bisa diserap para pemirsanya. Doa ini dipanjatkan bersama iringan para penari yang berkeliling sambil membawa oncor (obor). Kesenian Srandhul yang berkembang di Kota Gede, Yogyakarta juga masih mempertahankan keberadaan oncor ini. Obornya dibuat dengan menggunakan lima sumbu dan diletakkan di tengah pertunjukkan sebagai penerang. Hal ini merupakan simbol bahwa cahaya terang telah datang dan siap menjamah jiwa manusia agar beriman. Selanjutnya obor tersebut digunakan sebagai penerangan selama pertunjukan

Kesenian srandul merupakan kesenian kedaerahan dimana setiap kesenian daerah mempunyai ketua adat yang mengetahui secara pasti kesenian tersebut dan memimpin kesenian tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketua adat desa tersebut sekarang sudah berusia lanjut. Beliau adalah satu-satunya orang yang tau, mengerti dan paham akan kesenian srandul dari awal hingga akhir. Namun dalam usia yang mulai tidak produktif tersebut, terdapat kekhawatiran bahwa srandul akan benar-benar punah kalau generasi muda tak ada yang tertarik untuk melestarikan kesenian tersebut. Beliau sangat prihatin dengan generasi muda yang sekarang tidak mencintai kebudayaan sendiri.

Generasi muda lebih memilih mencintai dan mendalami kebudayaan pendatang yang sebenarnya merusak. Tidak seperti srandul dimana dalam pertunjukan srandul sarat dengan makna adiluhung dan ajaran moral yang sangat tak ternilai harganya. Dengan keadaan seperti ini, akankah Srandul dapat lestari ditengah arus perkembangan jaman yang semakin mendesak manusia menjadi manusia individual dan tidak peduli dengan lingkungan. Beliau pun mengatakan kalaulah beliau meninggal dunia, setidaknya ada salah satu yang dapat mewarisi pengetahuan tentang Srandul, sehingga tidak hanya kesenian ini dapat tetap lestari, namun juga makna dari sebuah kesenian Srandul ini dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar: