KESENIAN SRANDUL : SENI BERNAFAS ISLAM DARI WONOGIRI ( HAMPIR TINGGAL KENANGAN )
Wonogiri
adalah sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Sejumlah kesenian rakyat pernah hidup
di daerah ini. Diantaranya adalah kesenian Srandul atau juga sering
disebut Srandil. Srandul adalah sebuah wujud kesenian drama tari rakyat
yang bernafaskan Islam. Apabila ditengok dari syair dan adegan yang di dalamnya
menunjukkan adanya upaya dakwah untuk perbaikan pendidikan moral, agama, etika,
dan estetika. Dalam setiap tembangnya secara tersurat menggambarkan
tentang tuntunan perjalanan hidup manusia agar selamat dunia dan akhirat sesuai
dengan ajaran Islam.
Dari
Wonogiri kesenian Srandul ini sempat menyebar ke beberapa daerah di sekitarnya
antara lain Ponorogo, Klaten, Karang Anyar, Gunung Kidul, Sleman, Bantul,
Temanggung, dan lain-lain. Kesenian Srandul ini juga sempat berkembang di Kota
Gede, Yogyakarta. Hal ini diawali dengan pementasan kelompok Srandul dari
Gunung Kidul di Kota Gede sekitar tahun 1941. Rombongan ini sempat menginap di
kampung Bumen, Kota Gede dan melakukan gladi resik (latihan sebelum
pertunjukan). Rakyat setempat rupanya cukup tertarik dengan kesenian ini
dan ikut berlatih. Rakyat Basen, sebuah kampung di Kota Gede lainnya, kemudian
membentuk group Srandul sendiri yang dinamakan “Purba Budaya”.
Srandul
adalah kesenian yang terbentuk di Wonogiri sekitar tahun 1920-an. Pertunjukan
Srandul biasanya melibatkan adanya seni gamelan, suara, teater, dan tari.
Gamelan yang digunakan biasanya berlaras slendro. Juga melibatkan alat musik
lainnya seperti kendang, angklung, kenthongan, dan rebana (terbang).
Dialog-dialog yang tercipta dalam cerita sebagian mengalir dalam wujud shalawat
dan tembang Jawa yang berisi nasihat atau petuah tentang bagaimana menjadi
orang Jawa yang baik, yaitu sesuai ajaran Islam. Dalam pentasnya, kadang kesenian
ini dilaksanakan bersama pertunjukan “Kethek Ogleng” dan dilanjutkan dengan
penampilan pelawak “badutan”. Oleh karena itu tidak heran, sebagian masyarakat
ada yang menyebut wujud kesenian ini secara generalis sebagai “badutan”.
Biasanya
kesenian ini dimulai dengan memanjatkan doa kepada Gusti Allah dengan
permohonan agar diberi ampunan dan pertunjukan bisa berjalan lancar hingga
tuntunannya bisa diserap para pemirsanya. Doa ini dipanjatkan bersama iringan
para penari yang berkeliling sambil membawa oncor (obor). Kesenian
Srandhul yang berkembang di Kota Gede, Yogyakarta juga masih mempertahankan
keberadaan oncor ini. Obornya dibuat dengan menggunakan lima sumbu dan
diletakkan di tengah pertunjukkan sebagai penerang. Hal ini merupakan simbol
bahwa cahaya terang telah datang dan siap menjamah jiwa manusia agar beriman.
Selanjutnya obor tersebut digunakan sebagai penerangan selama pertunjukan
Kesenian
srandul merupakan kesenian kedaerahan dimana setiap kesenian daerah mempunyai
ketua adat yang mengetahui secara pasti kesenian tersebut dan memimpin kesenian
tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketua adat desa tersebut sekarang sudah
berusia lanjut. Beliau adalah satu-satunya orang yang tau, mengerti dan paham
akan kesenian srandul dari awal hingga akhir. Namun dalam usia yang mulai tidak
produktif tersebut, terdapat kekhawatiran bahwa srandul akan benar-benar punah
kalau generasi muda tak ada yang tertarik untuk melestarikan kesenian tersebut.
Beliau sangat prihatin dengan generasi muda yang sekarang tidak mencintai
kebudayaan sendiri.
Generasi muda
lebih memilih mencintai dan mendalami kebudayaan pendatang yang sebenarnya
merusak. Tidak seperti srandul dimana dalam pertunjukan srandul sarat dengan
makna adiluhung dan ajaran moral yang sangat tak ternilai harganya. Dengan
keadaan seperti ini, akankah Srandul dapat lestari ditengah arus perkembangan jaman yang semakin
mendesak manusia menjadi manusia individual dan tidak peduli dengan lingkungan.
Beliau pun mengatakan kalaulah beliau meninggal dunia, setidaknya ada salah
satu yang dapat mewarisi pengetahuan tentang Srandul, sehingga tidak hanya
kesenian ini dapat tetap lestari, namun juga makna dari sebuah kesenian Srandul
ini dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar