Pelangi di Tengah Terik Sang Mentari
Kita berasal dari rasa gelisah yang sama..
Kau dan aku lahir dari kemuakan pada rasa bising..
Pada suara orang-orang yang berlari entah mengejar apa??
Kita cuma butuh tenang,, hening,, diam..
Setelah sekian rasa pahit yang kita lewati..
Kita mungkin salah posisi..
Tapi persetan dengan semua itu..
Antara koma dan titik..
Duduk berdampingan pada bidang keybord komputer..
Tapi makna yang diberi jauh berbeda..
Ya kita dekat tapi kenyataannya kita jauh..
Siapa yang menyangka??
Sebuah keinginan yang mungkin mustahil dicipta Tuhan..
Harapan yang tak kan pernah ada dalam cerita..
Aku hanya ingin melihat pelangi di tengah terik sang mentari..
Sampai kita benar-benar bersatu..
Tak lagi didunia raga..
Sampai kapan perahu rapuh ini berlabuh??
Melewati setiap ombak kehidupan..
Pada tiap-tiap malam..
Sampai kita tertidur lelap..
Hingga menemukan si Laela bergandengan tangan mesra dengan Qais kekasihnya..
Aaahhh,,,
Cinta yang mendalam..
Selalu muncul dalam hal-hal murah dan sederhana..
Selasa, 27 Januari 2015
Senin, 19 Januari 2015
Air Terjun Tuwondo
![]() |
| Air terjun Tuwondo bagian atas |
Tidak susah untuk segera sampai ke lokasi tersebut. Cukup 10 menit dari rumahku yang tidak jauh dari lokasi air terjun Tuwondo. Akses jalan untuk menuju lokasi juga sudah memadai untuk dilalui kendaraan bermotor.
Setiba dilokasi kami disambut oleh beberapa warga setempat yang sedang melakukan kerja bakti pembuatan area parkir kendaraan. Hmmm, rupanya belum begitu terjamah oleh para pengunjung. Setidaknya seperti itulah yang dikatakan oleh salah satu warga yang kami ajak ngobrol.
Obrolanpun kami sudahi karena kami sudah tidak sabar untuk segera melihat air terjun yang mulai menjadi perbincangan banyak orang di dunia maya. Cuuusss kita berjalan kaki dari lokasi tempat parkir menuju air terjun. Tidak jauh lah, sekitar 300 m kami berjalan. Setiba di lokasi air terjun kami pun langsung mulai loncat sana loncat sini memastikan serta mencari tempat yang asik jika besok kami datang lagi dengan mengajak personel yang lebih banyak. Alhasil di lokasi air terjun ini kami menyimpulkan bahwa, kurang nyaman dan kurang asik jika untuk acara seru-seruan dengan jumlah personel yang banyak.
Dan kami pun memutuskan untuk menuju ke air terjun yang bagian atas. cukup jauh untuk sampai kelokasi air terjun yang bagian atas. Tetapi terbayar sudah jika sudah sampai kelokasi ini. Disini di bagian air terjun yang paling atas kami bisa melepaskan rasa lelah dan penasaran kami. Tanpa pikir panjang kami pun segera menuju tepat dibawah guyuran air terjun. Woooowww,, tak terbayangkan kita bisa mandi serta bermain air di daerah perbukitan yang notabene hanya bisa dinikmati pada musim penghujan saja. Karena jika datang kesini pada musim kemarau kemungkinan debit air dari atas sangat sedikit, sehingga air terjun ini hanya bisa dinikmati jika musim penghujan tiba.
Dan disini pun jika kalian mau bebakaran juga bisa dilakukan. Kamipun juga sudah menyiapkan amunisi untuk mengisi perut kami. Yeeaacchhh,, roti tawar, selai, meses, serta pop mie pun sudah siap. Kami segera mencari kayu untuk membuat perapian dan memasak air panas untuk menyeduh pop mie. Jangan lupa bawa stock air putih yang banyak ya, karena air disini keruh jadi tidak bisa kita masak heheheee. Tak ada yang imposible bagi kami.
Ohh iya gaes, diatas air terjun ini kita pun bisa melihat pemandangan dari atas bukit ini loh. Kalau cuaca sedang cerah kita bisa melihat gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Candi Prambanan, Kalasan juga. Dan tentunya sangat nikmat dan paling tepat jika pada senja hari. Dan tak hanya sampai disini, kami pun masih melanjutkan perjalanan kami menuju atas bukit ini. Dan kami pun menemukan tempat yang lumayan asikk buat berfoto-foto atau sekedar menceburkan diri di kubangan air ini. Tapi perlu diingat ada satu kubangan yang ternyata lumayan dalam, kedalaman sekitar 2 meter.
Yuuppp,, bagi kalian yang mau berkunjung ke air terjun Tuwondo jangan lupa sempatkan naik keatas. Dan disini ada beberapa lokasi yang bisa kalian nikmati, selain air terjun yang berada dibawah. Dan yang paling penting adalah " Jaga Kebersihan, dan tentunya juga harus Extra Berhati - hati karena akses untuk menuju ke atas sangat licin dan adanya binatang yang tentunya tidak ingin kalian jumpai seperti ular dan luwing.
Welcome To Air Terjun Tuwondo
![]() |
| Air terjun Tuwondo bagian bawah |
![]() |
| Air terjun Tuwondo bagian bawah |
![]() |
| Air terjun Tuwondo bagian atas |
![]() |
| Air terjun Tuwondo bagian atas sendiri |
![]() | |||
| Air terjun Tuwondo bagian atas sendiri |
![]() | |
| Disini bagian atas kita bisa bebakaran |
![]() |
| ini berada diatas nya air terjun |
![]() |
| Ini kedalaman mencapai 2 meter ( hati-hati ) |
![]() |
| Pemandangan yang bisa kita nikamti dari atas bukit |
-Kang Pitoe Juragan Pin
-Ndro S
-Rara Rizwana
-Prita
-Dphelicious
Sabtu, 10 Januari 2015
Perjalanan Spiritual (Part 3)
Perjalanan Spiritual (Part 3)
Di tempat inilah rumah Mbah Yai yang berupa gubug gedeg yang sudah lapuk aku "Ngudi Kawruh" menimba ilmu bahasa inteleknya. Sudah 7 bulan aku merguru pada Mbah Yai, dan selama 7 bulan itu aku hanya datang 4 kali. Toh gak ada aturan atau jadwal rutinitas. Semua aturan serta jadwal aku sepenuhnya yang membuat. Disini belum aku temukan "wejangan" Mbah Yai yang ngeri-ngeri seperti uztad-uztad yang ceramah di televisi atau pengajian majelis taklim yang sering gembar gembor soal siksa dan azab yang pedih. Dan belum juga aku mendengar wejangan Mbah Yai yang mengumbar janji-janji Tuhan soal kenikmatan atau iming-iming semacam MLM.
Aku hanya menangkap bagaimana Mbah Yai mulai mendoktrin ku agar bisa merubah karakter kepribadian serta mengolah rasa hawa nafsu agar aku tidak dikuasainya.
"Tolong ngger ke dapur ambil singkong rebus dan kopi bawa kemari. perintah Mbah Yai.
"Inggih yai. Bergegas aku pergi ke dapur sesuai dengan perintah Mbah Yai. Dan singkong rebus serta kopi 2 gelas aku bawa ke depan teras.
"Monggo Yai singkong dan kopinya.
Mbah Yai pun segera menyeruput kopi panas yang sudah tersaji. Begitu menikmati sekali Mbah Yai. Seperti tanpa beban tanpa seonggok permasalahan yang ada dibenaknya.
"Yai, adakah persamaan antara jaman Kanjeng Nabi dengan jaman sekarang?
"Kenapa kamu tanya itu ngger?
"Saya tidak tahu Yai.
"Begini ngger, jaman Nabi dengan jaman sekarang itu tidak jauh berbeda. Sama-sama takut dengan uang ngger. Manusia lebih takut tidak memiliki atau mendapatkan uang dari pada mendapatkan Ridho Tuhan ngger. Yang membedakan cuma peradaban saja.
Sampai situ Mbah Yai tidak melanjutkan perkataannya lagi. Lagi-lagi aku disuruh berfikir sendiri. Meresapi, memaknai sendiri. Sampai batas nalar, logika dan daya pikir ku sudah mentok baru aku bertanya pada Mbah yai. Ahhh,, ngopi dulu saja, tetap aku nikmati kopi dingin ini serta singkong rebus yang tak kalah dingin pula.
Minggu, 04 Januari 2015
Perjalanan Spiritual (Part 2)
Perjalanan Spiritual (Part 2)
"Gimana ngger sudah bersahabat karib dengan sifat-sifat buruk mu itu?
"Sampun Yai, malah aku sekarang sudah bisa bercanda dengan sifat-sifat buruk ku ini, aku sudah benar-benar menikmatinya.
"Bagus, kamu ternyata bisa cepat bergaul. Sebuah prestasi yang membanggakan, seorang terpelajar saja belum tentu bisa.
"Kenapa Yai?
"Ya, karena orang-orang yang terpelajar orang-orang yang notabene berintelek tidak pernah mendapat mata kuliah seperti ini. Mereka terus dijejali dengan teori-teori duniawi, kata-kata motivator yang mempunyai struktur pola kalimat yang indah, serta ambisi untuk menggenggam dunia.
"Bukankah mereka juga belajar untuk memperjuangkan hidup Yai?
"Betul ngger, mereka tetap memperjuangkan hidup. Tetapi mereka banyak yang terjebak dalam lingkaran paradigma kehidupan hitam. Mereka tidak tahu ilmu yang terkandung dalam semesta. Mereka pintar ngger, bertahun-tahun mereka habiskan waktu untuk belajar dan belajar yang menjadi tujuan hidupnya. Perhatikan saja ngger, setelah mereka lulus mereka sibuk dengan pertarungan dengan dunia untuk mencari pekerjaan. Mereka malu jika harus melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan ijazahnya. Padahal sejatinya orang belajar itu bukan untuk memperjuangkan hidup, melainkan untuk memperkaya olah rasa, olah karsa, olah cipta yang sudah melekat dalam diri manusia. Manusia harus memahami itu dahulu ngger. Wes adzan magrib ngger, simbah mau berangkat ke mushola dulu kalau kamu boleh ikut tidak ikut pun juga tak apa-apa, terserah kamu ngger.
"Aku masih ingin menikmati syahdunya senja di sini Yai, dan aku masih enggan untuk menjalankan apa yang sudah diwajibkan Sang Pencipta.
Sembari menunggu Mbah Yai pulang dari mushola, aku menikmati sebatang rokok yang slalu setia menemani ku. Buulllllll,, asap rokok yang keluar dari mulut dan hidung terasa nikmat dipadukan dengan segelas kopi yang sudah dingin. Begitu indah dunia ini, begitu syahdunya. Sehingga banyak orang yang lupa akan firman Tuhan. Ahhh masa bodoh ajj, ngapain juga memikirkan orang lain. Toh itu urusan mereka dengan Tuhannya.
Keheranan ku pun mulai muncul tatkala ingat perkataan Mbah yai barusan. Kenapa manusia rela bertahun-tahun hanya untuk belajar dan rela membayar jutaan bahkan ratusan juta? Padahal Al-Quran adalah sumber dari ilmu, dan banyak ilmu dunia ini yang terkandung dalam Al-Quran. Ahh jaman sudah berubah kok, ini jaman digital bukan jaman dinasti Kanjeng Nabi ataupun jaman Khalifah. Mereka tak perlu lagi repot-repot menghafal Al-Quran, cukup membacanya sesekali kalau ada waktu luang saja. Yang penting Karir prioritas utama, agar semakin menumpuk pundi-pundi rupiah yang ada dalam rekening mereka. Ahhh preekkk tai asu. Ya mungkin seperti itulah dinamika kehidupan era digital saat ini. Sesekali sedekah, sesekali ikut majelis taklim. Itu sudah cukup sebagai bekal di akherat kelak. Yang penting lulus jadi sarjana, master, doctor atau profesor dan bisa berkarir didunia kerja yang bergengsi.
Sabtu, 03 Januari 2015
Perjalanan Spiritual (Part 1)
Perjalan Spiritual (Part 1)
Mungkin setiap orang mempunyai suatu peristiwa perjalanan spiritualnya tersendiri. Tak lepas itu dari tuntutan, faktor lingkungan, ataupun kehendak hati nurani yang bersangkutan. Sungguh perjalanan spiritual adalah suatu perjalanan yang luar biasa menggetarkan setiap relung tulang dan persendian. Tak luput dari mereka yang berbondong-bondong "Nyantri" di pondok pesantren yang terkenal terkemuka yang melahirkan banyak tokoh-tokoh penting dalam negara ini.
Jauh berbeda dengan perjalanan spiritual yang aku alami. Dengan masa lalu yang begitu kelam menggulung hati nurani ku. Entah apa saja kemaksiatan yang tak bisa kujabarkan. Andai sang Malaikat Atid membukakan buku pencatat amal ku, niscaya aku akan segera bertaubat kala itu. Bukan hal mudah untuk mengarungi masa transisi ini. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang kutaksir berusia 60-an tahun. Pertemuan yang tak disengaja tetapi ini awal yang sanggup merubah perjalanan hidup ku. Mbah Yai, yah aku biasa memanggil beliau dengan sebutan Mbah Yai. Sesosok yang sederhana, santun, arif, serta bijaksana dengan segudang "kawruh" (ilmu).
Aku mulai rajin mengaji serta berguru kepada Mbah Yai, ya seperti santri yang belajar dalam kelas pondok pesantren. Tetapi disini jelas dan jauh berbeda dari materi yang diajarkan oleh kiai-kiai ataupun uztad-uztad yang mengajar di pondok pesantren. Disini selalu diajarkan dengan apa itu kehidupan. Bukan diajarkan dengan apa itu Ketuhanan ataupun materi agama dasar yang biasa dijarkan di pondok. Disini tidak ada aturan yang mengikat, aturan yang membuat aku sendiri. Ya seperti itu kata Mbah Yai. Karena aturan itu yang hakiki hanya aturan Tuhan. Aku bisa leluasa kapan aku mau mulai belajar, kapan aku masuk.
Pelajaran pertama yang aku dapat dan aku tangkap adalah bagaimana kita membiasakan diri berteman dengan amarah, sakit hati, kekecewaan, keegoisan, dan keangkuhan. Ya, aku disuruh untuk berteman dengan semua sifat-sifat negatif ku. Bukan perkara mudah ternyata. 6 bulan aku mencoba belajar dan membiasakan diri berteman dengan segala sifat - sifat buruk tersebut. Bukankah kita manusia? Yang mempunyai hawa nafsu. Banyak memang pepatah yang sering ku dengar " Seorang pemenang adalah yang bisa menglahkan dirinya sendiri". Bulshit, persetan, preeekkkk, tai asu, jancuk, asu bajingan dengan pepatah tersebut.
Dan yang lebih asu lagi, aku mulai terjebak dengan suasana materi dari Mbah Yai. Aku mulai terbiasa, aku mulai bisa menikmati, aku mulai bisa bersahabat dengan segala sifat jelek manusia yang ku miliki. Ahhhh, Assuuuu tenan iki. Sering aku mengumpat seperti itu, dan Mbah Yai pun hanya tersenyum kecil. Senyum yang sulit ku artikan. Padahal aku dikenal dengan orang yang pandai serta lihai dalam hal membaca mata serta senyum seseorang. Tetapi baru kali ini aku menemukan orang yang benar-benar tak bisa ku baca pancaran bola matanya, pendaran senyumnya.
"Wes ngger, nek ra kuat ojo ditutukke, ndhak malah dadi kepikiran.
"Mboten Mbah, wejangane Simbah badhe kulo pungkasi sak tekane laku kulo.
Mbah Yai hanya tersenyum kecil lalu berjalan meninggalkan ku. Ah sialan,,,
Mungkin setiap orang mempunyai suatu peristiwa perjalanan spiritualnya tersendiri. Tak lepas itu dari tuntutan, faktor lingkungan, ataupun kehendak hati nurani yang bersangkutan. Sungguh perjalanan spiritual adalah suatu perjalanan yang luar biasa menggetarkan setiap relung tulang dan persendian. Tak luput dari mereka yang berbondong-bondong "Nyantri" di pondok pesantren yang terkenal terkemuka yang melahirkan banyak tokoh-tokoh penting dalam negara ini.
Jauh berbeda dengan perjalanan spiritual yang aku alami. Dengan masa lalu yang begitu kelam menggulung hati nurani ku. Entah apa saja kemaksiatan yang tak bisa kujabarkan. Andai sang Malaikat Atid membukakan buku pencatat amal ku, niscaya aku akan segera bertaubat kala itu. Bukan hal mudah untuk mengarungi masa transisi ini. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang kutaksir berusia 60-an tahun. Pertemuan yang tak disengaja tetapi ini awal yang sanggup merubah perjalanan hidup ku. Mbah Yai, yah aku biasa memanggil beliau dengan sebutan Mbah Yai. Sesosok yang sederhana, santun, arif, serta bijaksana dengan segudang "kawruh" (ilmu).
Aku mulai rajin mengaji serta berguru kepada Mbah Yai, ya seperti santri yang belajar dalam kelas pondok pesantren. Tetapi disini jelas dan jauh berbeda dari materi yang diajarkan oleh kiai-kiai ataupun uztad-uztad yang mengajar di pondok pesantren. Disini selalu diajarkan dengan apa itu kehidupan. Bukan diajarkan dengan apa itu Ketuhanan ataupun materi agama dasar yang biasa dijarkan di pondok. Disini tidak ada aturan yang mengikat, aturan yang membuat aku sendiri. Ya seperti itu kata Mbah Yai. Karena aturan itu yang hakiki hanya aturan Tuhan. Aku bisa leluasa kapan aku mau mulai belajar, kapan aku masuk.
Pelajaran pertama yang aku dapat dan aku tangkap adalah bagaimana kita membiasakan diri berteman dengan amarah, sakit hati, kekecewaan, keegoisan, dan keangkuhan. Ya, aku disuruh untuk berteman dengan semua sifat-sifat negatif ku. Bukan perkara mudah ternyata. 6 bulan aku mencoba belajar dan membiasakan diri berteman dengan segala sifat - sifat buruk tersebut. Bukankah kita manusia? Yang mempunyai hawa nafsu. Banyak memang pepatah yang sering ku dengar " Seorang pemenang adalah yang bisa menglahkan dirinya sendiri". Bulshit, persetan, preeekkkk, tai asu, jancuk, asu bajingan dengan pepatah tersebut.
Dan yang lebih asu lagi, aku mulai terjebak dengan suasana materi dari Mbah Yai. Aku mulai terbiasa, aku mulai bisa menikmati, aku mulai bisa bersahabat dengan segala sifat jelek manusia yang ku miliki. Ahhhh, Assuuuu tenan iki. Sering aku mengumpat seperti itu, dan Mbah Yai pun hanya tersenyum kecil. Senyum yang sulit ku artikan. Padahal aku dikenal dengan orang yang pandai serta lihai dalam hal membaca mata serta senyum seseorang. Tetapi baru kali ini aku menemukan orang yang benar-benar tak bisa ku baca pancaran bola matanya, pendaran senyumnya.
"Wes ngger, nek ra kuat ojo ditutukke, ndhak malah dadi kepikiran.
"Mboten Mbah, wejangane Simbah badhe kulo pungkasi sak tekane laku kulo.
Mbah Yai hanya tersenyum kecil lalu berjalan meninggalkan ku. Ah sialan,,,
Kamis, 01 Januari 2015
Mengingat Sumpah
Mengingat Sumpah
Hampir 2 tahun aku menelan kehidupan di Tanah Mataram setelah sekian tahun berjuang di tanah rantau. Getir kehidupan yang pahit dan penuh liku kekerasan, intimidasi dan kemaksiatan. Kuarungi dengan segala cara. Bermodal kenalan lama aku diajak bertarung dengan berbagai macam keganasan Ibu Kota. Ya, tentu dengan bermodal pekerjaan yang bisa dibilang mapan dengan berbagai macam fasilitas yang kudapat. Serta berbagai macam kenalanku yang cukup mempunyai potensi sebagai backingan. Hidup layaknya mafia ibu kota, dengan gagah selalu kusarangkan sepucuk senpi Baretta F92 yang selalu menemani setiap liku kekerasan yang kualami.
Bukan perkara mudah meninggalkan jalan hitam yang sudah bertahun-tahun kugeluti. Mati ditanah orang pun aku tak sudi. Hari yang bersejarah kala itu selayaknya revolusi kemerdekaan bagiku. Pagi yang cerah kala itu, serangkaian Taksaka Malam menghantarkan kepulanganku di Tanah Mataram. Dan sejak untuk kesekian kalinya aku menginjakkan kakiku ditanah ini, dan ini untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah bersumpah untuk tetap abadi disini. Apapun yang akan terjadi aku akan tetap setia dengan jejak leluhur yang lama. Dan tak mudah ternyata menelan sumpah. Bertahun - tahun pula aku digoda agar terusir dari kota ini. Tapi aku tetap tak akan meninggalkan tanah ini untuk waktu yang lama lagi. Mau Merapi berkobar, tanah retak, laut bergejolak. Tetap aku mengikat sumpahku itu. Biarlah kelak aku akan berabu disini.
Disini pula aku belajar kesederhanaan, kearifan dengan segala kerendahan hati setiap sudut kota ini. Walau aku menemui sepi yang panjang. Yang abadi, dan mau tak mau harus bersunyi - sunyi dalam sepi. Agar terus tak tertekan kehilangan. Sebab api dari neraka ini tak boleh padam. Harus kujaga demi kesadaran dan terus terjaga. Memelihara adanya api neraka dikota ini. Berarti harus siap dengan dharma dan sumpah bakti mengabdi pada sumpah janji. Sebab karena api neraka sang Begawan kembali diingatkan ada beban lemah yang harus diangkut, ada suara yang tak terdengar yang harus diangkat dan yang terbuai tipuan harus dibangunkan.
Sekali lagi bukan perkara mudah, apalagi bekerja dalam sepi. Ditambah rindu yang memuncak hanya dihempaskan oleh udara. Tak apalah, Sumpah pahit ini tetap harus kugigit. Agar besok kelak entah dimana. Aku bisa berteriak " Hai Api Neraka " ini aku yang tertatih - tatih penuh luka, penuh rasa sakit menunaikan janjiku. Sebagai bukti bahwa aku tak pernah mundur sejengkal sekalipun. Sejengkal sumpah aku tanam. Pada Tanah Mataram, awal tahun 2013. Ketika keindahan dan rasa sesak karena bahagia berbaur jadi satu.
Hampir 2 tahun aku menelan kehidupan di Tanah Mataram setelah sekian tahun berjuang di tanah rantau. Getir kehidupan yang pahit dan penuh liku kekerasan, intimidasi dan kemaksiatan. Kuarungi dengan segala cara. Bermodal kenalan lama aku diajak bertarung dengan berbagai macam keganasan Ibu Kota. Ya, tentu dengan bermodal pekerjaan yang bisa dibilang mapan dengan berbagai macam fasilitas yang kudapat. Serta berbagai macam kenalanku yang cukup mempunyai potensi sebagai backingan. Hidup layaknya mafia ibu kota, dengan gagah selalu kusarangkan sepucuk senpi Baretta F92 yang selalu menemani setiap liku kekerasan yang kualami.
Bukan perkara mudah meninggalkan jalan hitam yang sudah bertahun-tahun kugeluti. Mati ditanah orang pun aku tak sudi. Hari yang bersejarah kala itu selayaknya revolusi kemerdekaan bagiku. Pagi yang cerah kala itu, serangkaian Taksaka Malam menghantarkan kepulanganku di Tanah Mataram. Dan sejak untuk kesekian kalinya aku menginjakkan kakiku ditanah ini, dan ini untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah bersumpah untuk tetap abadi disini. Apapun yang akan terjadi aku akan tetap setia dengan jejak leluhur yang lama. Dan tak mudah ternyata menelan sumpah. Bertahun - tahun pula aku digoda agar terusir dari kota ini. Tapi aku tetap tak akan meninggalkan tanah ini untuk waktu yang lama lagi. Mau Merapi berkobar, tanah retak, laut bergejolak. Tetap aku mengikat sumpahku itu. Biarlah kelak aku akan berabu disini.
Disini pula aku belajar kesederhanaan, kearifan dengan segala kerendahan hati setiap sudut kota ini. Walau aku menemui sepi yang panjang. Yang abadi, dan mau tak mau harus bersunyi - sunyi dalam sepi. Agar terus tak tertekan kehilangan. Sebab api dari neraka ini tak boleh padam. Harus kujaga demi kesadaran dan terus terjaga. Memelihara adanya api neraka dikota ini. Berarti harus siap dengan dharma dan sumpah bakti mengabdi pada sumpah janji. Sebab karena api neraka sang Begawan kembali diingatkan ada beban lemah yang harus diangkut, ada suara yang tak terdengar yang harus diangkat dan yang terbuai tipuan harus dibangunkan.
Sekali lagi bukan perkara mudah, apalagi bekerja dalam sepi. Ditambah rindu yang memuncak hanya dihempaskan oleh udara. Tak apalah, Sumpah pahit ini tetap harus kugigit. Agar besok kelak entah dimana. Aku bisa berteriak " Hai Api Neraka " ini aku yang tertatih - tatih penuh luka, penuh rasa sakit menunaikan janjiku. Sebagai bukti bahwa aku tak pernah mundur sejengkal sekalipun. Sejengkal sumpah aku tanam. Pada Tanah Mataram, awal tahun 2013. Ketika keindahan dan rasa sesak karena bahagia berbaur jadi satu.
Langganan:
Komentar (Atom)









