Terima kasih.
Iya, terima kasih atas setiap hujatan dan amarah yang kamu berikan.
Terima kasih.
Iya, terima kasih untuk segalanya.
Adakah rasa kecewa dan sakit hati dihatiku ini?
Tidak ada sama sekali sayang. Percayalah. Apapun yang kamu berikan, apapun yang kamu suguhkan aku terima dengan senyum dan akan kusirami hati ini agar lebih bisa menyayangi dan menyintaimu lagi. Iya agar lebih bisa menyayangi dan menyintaimu.
Adakah rasa kecewa dan sakit hati dihatiku ini?
Tidak ada sama sekali sayang. Percayalah. Apapun yang kamu berikan, apapun yang kamu suguhkan aku terima dengan senyum dan akan kusirami hati ini agar lebih bisa menyayangi dan menyintaimu lagi. Iya agar lebih bisa menyayangi dan menyintaimu.
Andai aku bisa seperti mu atau seperti orang lain pada umumnya. Yang bisa marah, jengkel, sebal, minta ini minta itu, nuntut ini nuntut itu kepada orang yang dicintai dan disayanginya. Iya, andai aku bisa seperti itu. Dan kini aku tersadar. Iya, aku sekarang sadar. Bahwa cinta itu bersyarat. Tidak seperti yang sering para pujangga dan penyanyi lantunkan " Cinta Tidak Bersyarat ". Aku telah terlalu lama terbuai dengan kata-kata itu. Bahwa kini kutemui bahwa cinta itu bersyarat. Mungkin kasih ibu kepada beta juga bersyarat.
Memang aku tak menyuguhkan romatisme seperti dalam novel yang sering kamu baca. Memang aku tak piawai dalam mengatur kencan kita. Iya, mungkin takdir seperti katamu. Iya, takdir. Kamu tahu bagaimana rasanya sebal, jengkel, dan marah? Kamu tahu rasanya jika permintaan dan tuntutanmu tidak terpenuhi sesuai harapanmu? Ajari aku bagaimana rasanya. Sudah bertahun-tahun hati ini mati rasa dengan rasa seperti itu. Aku juga ingin bisa merasakan sebal, jengkel dan marah. Aku juga ingin minta ini minta itu nuntut ini nuntut itu seperti apa yang kamu tekankan padaku. Tetapi lagi-lagi hati ini tak kuasa melakukan semua hal itu.
Kenapa?
Aku orang yang menyayangimu dan orang yang menyintaimu tak akan mampu melakukan semua itu. Karena aku menyayangi dan menyintaimu benar-benar tanpa syarat. Aku mencoba memahami bahwa kamu dilelahkan oleh rutinitasmu mana mungkin aku memberikan rasa sebal, jengkel dan marah kepadamu. Ku tepis jauh-jauh rasa tersebut untukmu. Biarkan rasa tersebut semakin mengendap didalam hati ini dan kusimpan rapat yang kata orang sebagai pemicu penyakit. Aku hanya diam. Iya, diam.
Pernahkah aku menjanjikanmu hidup bahagia jika bersamaku?
Pernahkah aku menjajikanmu hidup yang mapan?
Pernahkah aku berbicara tentang kebaikanku?
Pernahkah aku menuruti keinginanmu dengan mudah?
TIDAK SAMA SEKALI.
Terima kasih telah menasehatiku dengan marahmu, kamu boleh marah, sebal, jengkel sayang. Namun sebesar apapun marahmu, itu jauh lebih kecil daripada kebaikan yang kamu lakukan untukku, untuk kita. Aku yang paling berhak menerima marahmu karena aku belum mampu membuatmu bahagia dan termuliakan sebagai orang yang aku sayang dan kucintai terlebih kamu adalah satu-satunya wanita yang akan menjadi pendamping hidupku. Iya, kamu yang akan menjadi istriku.
Terima kasih telah menasehatiku dengan marahmu, kamu boleh marah, sebal, jengkel sayang. Namun sebesar apapun marahmu, itu jauh lebih kecil daripada kebaikan yang kamu lakukan untukku, untuk kita. Aku yang paling berhak menerima marahmu karena aku belum mampu membuatmu bahagia dan termuliakan sebagai orang yang aku sayang dan kucintai terlebih kamu adalah satu-satunya wanita yang akan menjadi pendamping hidupku. Iya, kamu yang akan menjadi istriku.
Dan baru kali ini aku tidak ingin menyelesaikan tulisanku. Tulisan adalah curahan hati seseorang dan akan abadi. Terima kasih. :)