Kamis, 27 Agustus 2015

Padamu Telah Kutaruhkan Rasa Percaya Yang Tak Terhingga

Hanya embun pagi yang selalu membisikkan akan rindu ini semalam. Ia selalu setia menyejukkan hati yang kadang dirundung rasa "entah" yang selalu saja menyisakan kerak hitam. Disini, ditempat ini aku mampu bertahan dengan segala dayaku yang hampir menemui rasa keterputus asaanku. 

Kamu tahu sayang? Telah kuserahkan segala rasa yang selama ini bernyanyi dalam sunyi sepi hanya padamu. Kamu yang dulu selalu berusaha mendekat padaku untuk menyelami rasa apa yang kumiliki atas namamu. Kamu yang senantiasa merapal doa-doa atas namaku disetiap sujud terakhirmu. Apa yang kamu inginkan atasku kini telah kamu miliki seutuhnya. Doa-doamu yang meruntuhkan hati ini membuatku takluk bersimpuh mengharap kasih sayang dan cintamu seutuhnya.

Kamu selalu melihat aku tampak baik-baik dengan mengumbar sejuta senyum seolah apa yang kudengar, kulihat, kurasakan selama ini hanya angin lalu. Tuhan, rasa apa ini? Hati yang sering sesak atas segala rasa lain yang tidak kuharapkan ini mencabik menyayat hati. Sesakit inikah yang namanya cemburu?

Ketidak berdayaanku atas apa yang terjadi membuat hati kian pilu. Aku yang hanya bisa diam dan melihat apa yang terjadi terkesan kubiarkan saja. Entahlah, aku tidak ingin menuruti egoku untuk membuat keadaan ini membaik. Keadaan yang bisa selalu menyejukkan seperti kamu katakan padaku waktu itu. Aku sangat berharap semoga kata-katamu tidak hanya terdengar surga ditelinga saja, tetapi mampu membuat surga diatas hati ini. 

Kamu yang kelak akan menjadi ibu bagi anak-anakku, kamu yang kelak senantiasa mendidik anak-anakku dengan budi pekerti yang baik. Kamu yang kelak menjadi lentera cahaya rumah tangga kita. Kita yang akan membangun sebuah museum perjalanan hidup kita. Dengan 2 anak kembar dan 1 anak angkat tentunya akan menjadikan sebuah keluarga bahagia, keluarga yang sanggup memberi bukti nyata bahwa rasa sayang dan cinta yang kita berikan pada anak-anak kita tak ada garis pembeda. 

Sayang, ingatkah kamu? 
" Sepanjang kamu percaya, aku akan bisa mendidik anak-anak kita dengan segala hal yang kupunya".
Sungguh hanya kata-katamu ini yang mampu meredam segala rasa yang sering membuat hati pilu. Padamu telah kutaruhkan rasa percaya yang tak terhingga. Kuharap kamu bisa menjaga selamanya.

I will always love you

Jumat, 21 Agustus 2015

Satu Kisah Tentang "Cinta"

Cinta.
Setiap orang tentu mempunyai sudut pandang sendiri memaknai cinta. Kebanyakan berangkat dari kenangan masing-masing individu. Tentu saya memiliki sudut pandang sendiri dalam memaknai apa itu cinta.

Cinta itu seperti apa?
Cinta tidak seperti apa-apa, cinta itu  slalu mengalir. Yang lekat di hati kita. Cinta yang mengalir dengan sendirinya tanpa paksaan. Seperti kata pepatah, dari mata turun kehati.

Bisakah cinta menyakiti?
Cinta tidak bisa menyakiti, cinta adalah rasa suka yang membahagiakan bukan pemberi rasa sakit. Banyak kita dengar, aku sakit karena cinta. Bukan seperti itu cinta, cinta tak pernah menyakiti. Mereka tersakiti bukan karena cinta, melainkan karena sudah tidak ada cinta. Walau rasa sayang itu masih ada, bukan berarti itu cinta.

Suatu keharusan untuk menyikapi segala sesuatunya dengan sudut pandang yang objektif bukan subjektif. Termasuk cinta. Dengan begitu kita tidak akan merasa tersakiti dan melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri kita sendiri atau orang lain. Sadarlah, ada cinta yang pantas untuk diperjuangkan tanpa harus bertindak diluar logika.

Bila kita bisa mencintai diri kita sendiri, maka akan lebih mudah kita mencintai orang lain. Banyak kasih yang harus kita bagi kepada sesama. Tetapi cinta tidak bisa terbagi dalam suatu ketertarikan hubungan lawan jenis. Lantas bisa apa jika seseorang masih sayang tetapi tidak bisa mencintai sepenuhnya? Iya, cinta segera pergi dari hatinya. Dan rasa sakit, kekecewaan, penyesalan, dan bahkan tak sedikit berbuat hal-hal yang konyol karena ditinggal oleh cinta. 

Maknai cinta dengan lebih bijak, dapatkan cinta dengan kasih bukan dengan hati dan pikiran buta. Cinta yang seharusnya membawamu pada kebaikan dan kebahagiaan, bukan membawamu pada kehancuran atau kekecewaan. 

Lantas bagaimana jika di hatinya sudah tidak ada cinta?
Dibuat simpel saja gaesss, kecewa boleh kalut boleh galau juga boleh. Tapi ingat, secepatnya kita harus segera bangkit. Tidak perlu melakukan hal-hal yang konyol dengan cara yang "entah". Terus berkarya demi masa depan. Dunia ini tidak butuh pecundang gaess. Hanya seorang pecundang murahan yang bisa dikalahkan karena cinta. Pikirkan perutmu sebelum kamu memikirkan cinta.

Sabtu, 04 April 2015

Untukmu Wahai Tulang Rusukku



Begitu banyak mimpi-mimpi dan harapan masa lalu yang akhirnya pelan-pelan pudar seiring bertambahnya usia. Salah satunya tentang harapan sebuah pernikahan impian bersama calon istriku kelak. Bukannya tak berusaha untuk mewujudkannya, tapi pada realitanya tak semua hal yang aku inginkan bisa terwujud. Mau tak mau, suka tak suka, inilah hukum alam yang harus dengan ikhlas ku terima.

Dengarlah  wahai calon istriku.
Jangan takut menikah denganku hanya karena aku tak sanggup menjadikan pernikahan impianmu menjadi sebuah kenyataan.

tahukah wahai calon istriku?
Aku memimpikan sebuah lamaran yang romantis beserta kejutan manis yang tak pernah kau duga. Dilengkapi dengan sebuah dokumentasi agar nanti kita bisa melihat ekspresimu kembali saat kau kupinta menjadi teman hidupku. Aku ingin melamar dengan cara manis dan tak biasa. Mungkin dengan balon warna-warni atau bunga mawar yang indah dengan sebuah cincin yang terselip diantaranya. Akan, tetapi seiring bertambahnya usia aku sadar, toh keinginanku yang mungkin sedikit berlebihan itu tak mudah untuk terjadi. Aku sadar betul ada keterbatasan waktu dan biaya, atau saja memamg aku kurang begitu romantis. Tapi aku punya caraku sendiri untuk meminangmu. Maka biarkanlah semua mengalir seadanya saja. Namun satu hal pasti yang selalu kuinginkan untuk terwujud adalah, wanita cantik nan manis yang ku datangi untuk ku lamar adalah dirimu.

Yacchh, aku ingin pernikahan sederhana dengan tema vintage dan mengundang orang-orang terdekat saja. Mungkin itu akan terlihat manis dan elegan. Tapi itu tentu saja tak mudah terealisasi. Bagaimanapun juga orang tuamu pasti menginginkan acara yang berbeda. Mereka pasti menginginkan pernikahan yang sewajarnya saja, yang syarat dengan prosesi adat istiadat kita. padahal aku ingin pesta kita nanti bisa kita dekorasi sesuai dengan imajinasi kita. Dengan tambahan ornamen yang unik sebagai penghias pelaminan kita kelak. Cukup dengan 2 buah kursi sederhana yang dihiasi dengan sederhana akan lebih manis daripada pelaminan dengan harga yang berjuta-juta. Seandainya mimpiku ini tak jadi nyata, toh aku pernah berimajinasi tentangnya.

Ketika acara sederhana nan sakral itu usai, aku ingin mengajakmu pergi menjelajah surga bersamamu. Honeymoon - begitulah orang-orang menyebutnya. Aku ingin menghabiskan waktu dipinggir pantai menikmati waktu kita penuh dengan romansa, bangun disampingmu sambil mendengar deburan ombak dan memotret kenangan indah kita hingga sang surya pamit dari hadapan kita.

Tunggu, bisakah keinginanku itu terwujud?
Aaahhh, lagi-lagi keinginan itu mungkin tak juga bisa terwujud. Aku lupa kalau aku terbentur masalah waktu dan biaya. Aku hanya seorang karyawan biasa yang diharuskan patuh pada peraturan tempat ku mencari penghidupan. Mungkin tak banyak waktu yang bisa kita nikmati berdua.

Toh, pernikahan bukan perkara bulan madu. Kalaupun kita tak punya waktu untuk honeymoon, aku tak akan pernah mendustai kenikmatan yang sudah Tuhan berikan padaku, yaitu menjadi imammu dan ayah bagi anakku nanti.

Hhhmmm, aku ingin mempunyai dan mempersembahkan untuk mu sebuah istana mungil dengan 2 kamar tidur dan segala perabot yang sudah tertata rapi didalamnya. Tapi, lagi-lagi impianku itu terbentur dengan realita yang ada. Aku sadar aku bukan orang dengan kebebasan finasial diatas rata-rata. Bahkan aku harus berusaha memeras keringat untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi mewujudkan impian kita untuk menikah. Tapi tenanglah wahai calon istriku, aku senantiasa berkorban dan berjuang untuk menghidupimu dengan layak. Untuk masa depan anak-anak kita kelak. Keringat ini cukup sebagai semangatku, lelahku ini cukup sebagai cambuk untuk bangkit, dan kamu wahai calon istriku cukup sebagai lentera hati ku.

Yang kuharapkan darimu cukup satu wahai calon istriku.
Selama kau dan aku selalu berusaha dan berjibaku untuk mewujudkannya. Bukankah akan lebih manis jika kita mengalami banyak proses hidup bersama-sama ? Bagiku rumah ternyaman dan selalu jadi impianku adalah dirimu. Kaulah rumah yang selalu bisa menghangatkan keluarga kecil kita nanti.

Tapi satu impian yang selalu diam-diam kupanjatkan dalam doa, yaitu menjadi imammu bisa terwujud dan jadi nyata. Yaaa, semoga doa dan mimpiku itu bisa terwujudkan. Semoga kita bisa merangkai mimpi-mimpi kita berdua dengan ikatan pernikahan kita nanti. Semoga Allah mengijinkannya..

Jumat, 03 April 2015

Untukmu Yang Kemarin Bertambah Usia

Sebenarnya aku ingin membuatkan puisi untuk mu, sesuai dengan permintaanmu. Puisi yang so sweet. Tapi aku terus saja mencoba menuliskan pada 20 lembar kertas, tapi tak bisa ku rangkai puisi itu. Mungkin karena aku merasa kesulitan untuk menggambar sosok mu dan kutuangkan dalam karya puisi hahahahaaaaa.. Tapi itu benar adanya. Yach mau gimana lagi, puisi tak dapat ku tulis. Belum sebuah boneka meong yang kau pinta, hadecchh susahnya nyari boneka meong yang berukuran besar. Sampai malu pula aku keluar masuk toko boneka. Tapi tenang saja, klo ada waktu dan dah ketemu tak beliin. Toh ngak setiap bulan aku ngasih boneka ke kamu hahahaaa...
Tak sengaja aku baca artikel dari hipwee yang bagus sekali buat memotivasi diri sendiri, dan saat itu aku kepikiran buat berbagi artikel tersebut ke kamu sebagai pengganti puisi yang so sweet yang kamu pinta. Semoga kamu bisa memetik dan mengambil hikmah dari sepenggal artikel tersebut.





"Halo, diriku..
Apa kabarmu saat ini?
Apakah kamu masih sosok yang sama?
Sosok berkepala batu dengan ego yang selalu memenuhi udara?
Semoga saja tidak lagi."

Hai, ini aku, dirimu yang saat ini sedang tidak tenggelam dalam ego. Ya, aku menulis surat ini demi memperbaiki diriku sendiri. Aku ingin membuat kita tak lagi gemar menang sendiri sekaligus mengingatkan bahwa banyak orang di sekitaran yang tanpa kau sadari sudah kau abaikan. Lewat surat ini aku berusaha membantumu untuk tetap berpijak pada bumi dan mampu berbuat kebaikan selagi kamu masih bisa menghela udara.

Walau sering merasa dunia berlaku kurang adil padamu, sesungguhnya di sisi ada orang-orang yang begitu menyayangimu

Mungkin kamu belum menyadari benar bahwa dari sekian milyar manusia yang memenuhi bumi, kamu termasuk dalam golongan yang beruntung. Ya, kamu memiliki ayah, ibu, saudara, bahkan kawan yang selalu ada di sekitaran. Ada sosok ayah yang siap sedia banting tulang memenuhi semua kebutuhan. Ada pula ibu yang merawat dengan penuh kasih dan tak pernah alpa menuturkan wejangan, membuatmu selalu berada dalam jalur yang benar.
Selain orangtua, ada juga sosok saudara yang walaupun menyebalkan namun sebenarnya mereka benar-benar peduli pada keadaanmu. Ah, dan masihkah kamu ingat bahwa kamu selalu memiliki kawan di dalam hidupmu? Para sahabat yang selalu ada untuk berbagi dekap di saat hatimu terbelah menjadi dua. Mereka juga selalu sedia telinga, tak pernah jemu, walaupun kamu selalu mengulang cerita yang sama.
 
"Dengan banyaknya orang yang mencintaimu apa adanya, masihkah kamu merasa kurang beruntung sebagai manusia?"

Mereka dengan sabar menerima segala tingkah konyolmu sebagai manusia. Sementara kau justru sering memandang kebaikan mereka sebelah mata

Memang manusia tidak bisa meminta watak apa yang melekat pada dirinya ketika dilahirkan. Begitu pula kamu, kamu memang memiliki karakter keras. Bahkan terkadang orang-orang di sekitarmu harus berlapang dada untuk berhadapan dengan kepala batumu. Sadarkah kamu bahwa egomu selalu memegang kendali dan memenuhi udara?
Ya, kamu sering ingin menang sendiri. Terkadang kamu juga tenggelam ke dalam rasa iri yang sering membuatmu membenci teman tanpa alasan yang jelas. Saat ada beberapa teman yang berhasil meraih penghargaan kamu akan mengucapkan dengan hati setengah dan senyum yang tidak terlalu merekah.
Dipenuhi dengan orang-orang baik hati yang memiliki rasa tulus mencintaimu juga tidak membuatmu merasa lebih baik. Kamu justru merasa bahwa kebaikan yang mereka lakukan merupakan sebuah kewajiban. Sehingga kamu pun lebih gemar mengabaikan. Berpikir bahwa toh usia mereka semua masih panjang dan kamu bisa membalas segala kebaikan mereka kapan-kapan.

Kamu boleh merasa ingin menang sendiri. Tapi bukankah mereka juga punya hati?

Kamu mungkin tidak tahu betapa hati orang di sekitarmu selalu didera rasa sakit tiap kali kamu mengabaikan mereka. Ya, ibumu terluka tiap kali kamu selalu melontarkan alasan tidak bisa pulang ke kampung halaman. Begitu juga ayahmu, beliau kecewa ketika ragamu berada di rumah namun pikiranmu terhisap pada layar ponsel.
Tidak hanya mereka, saudaramu juga sebal ketika harus menghadapi sifatmu yang selalu kekanakan. Tahukah kamu, di usiamu yang sudah menginjak kepala dua ini harusnya kamu bisa menjadi contoh panutan? Ya, tidak seharusnya kamu ingin menang sendiri dan mengharuskan setiap orang menuruti segala keinginan.
Belum lagi ketika kamu justru mengabaikan sahabat-sahabat yang sudah begitu baiknya hadir di dalam hidupmu. Kamu sengaja mengaku sedang sibuk dan enggan menghabiskan waktu ketika mereka butuh kehadiranmu. Kamu lebih menikmati ketika mereka bisa diajak berbagi suka. Namun saat mereka ingin sedikit membagi duka, kamu langsung menyibukkan diri.

Maukah sekarang kau sedikit melunakkan kerasnya kepala? “Selamanya” bukan bilangan waktu yang sah di dunia. Kau perlu berubah sebelum penyesalan menyapa

Kamu hanya diberi kehidupan sekali ini saja. Bertemu dengan orang-orang yang selalu membuat hatimu bahagia juga tidak selamanya. Ya, kamu tidak tahu kapan masa mereka di dunia akan habis, kamu bahkan juga tidak tahu kapan kontrakmu di bumi akan disudahi.
Jadi, sebelum segalanya terlambat dan kamu dilumat penyesalan, maukah kamu berbesar hati melunakkan kerasnya kepalamu? Maukah kamu tak lagi mengabaikan mereka yang selalu berbuat baik padamu? Sebelum kamu tak lagi memiliki kesempatan. Berbagi kasihlah kepada ayah, ibu, saudara, serta kawan-kawanmu yang selama ini ada untukmu. Kamu tidak akan merugi, justru perasaan gembiralah yang akan memenuhi hati.

"Mulai sekarang berjanjilah kepada diri sendiri bahwa kamu tidak akan mengulang kesalahan yang sama demi kebahagiaan yang akan kamu petik di masa depan."

Selamat ulang tahun pesek, semoga makin dewasa sehat slalu, selalu dipermudah segala urusannya di dunia dan tentunya tambah gendut tambah pesek. Hahahahahaaa...
Ya itulah sepenggal cerita yang bisa aku bagi. Walaupun biasa saja dan tak spesial tak apalah, anggap saja untuk instropeksi diri. Soalnya juga dari orang biasa juga, hahahahaa... Dan semoga sudah ada yang special memberi yang special.. Hahaaaaa... Ok, keep spirit ajj pokoknya. Ohhh iyow, katanya kamu belum fasih baca Al-Quran ya?? aduuhh mesakke banget, suruh ngajarin kakak mu, kan lulusan pondok pesantren. hahahahaaa ppiiissssss...

Senin, 16 Februari 2015

ANGGREK BULAN

ANGGREK BULAN

Kali ini aku bercerita pada mu Anggrek Bulan ku..
Tentang apa itu realita asmara percintaan..
Sering kali mengundang hal bodoh karena dimabuk asmara..
Munafik jika aku tak melakukan hal bodoh jua..
Dimana seseorang yang merasakan cinta..
Maka harus siap pula dia merasakan pedihnya cinta..
Yang tanpa kompromi menikam relung hati..

Aku selalu bercerita hanya padamu Anggrek Bulan ku..
Sekian tahun sejak kita bertemu..
Kau masih asik menyendiri dengan sepi..
Dengan rasa kecewa mu..
Ahhh,, tak apalah..
Ku rasa kau pun menikmati itu..

Tapi sungguh kau pun tak tahu apa isi hati ku ini..
Hati yang tak lagi mampu membendung gempuran rasa lara..
Kian rapuh..
Ingin kau tahu Anggrek Bulan ku..
Aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa..
Bukan dengan metafora - metafora seperti penyair tua yang sok tahu tentang cinta itu!!
Tapi apakah kau juga akan mencintaiku dengan cinta yang pernah kecewa??


Elangjawa2307
AnggrekBulan

Yogyakarta, 08 Februari 2009

Selasa, 27 Januari 2015

Pelangi di Tengah Terik Sang Mentari

Pelangi di Tengah Terik Sang Mentari

Kita berasal dari rasa gelisah yang sama..
Kau dan aku lahir dari kemuakan pada rasa bising..
Pada suara orang-orang yang berlari entah mengejar apa??
Kita cuma butuh tenang,, hening,, diam..
Setelah sekian rasa pahit yang kita lewati..

Kita mungkin salah posisi..
Tapi persetan dengan semua itu..
Antara koma dan titik..
Duduk berdampingan pada bidang keybord komputer..
Tapi makna yang diberi jauh berbeda..
Ya kita dekat tapi kenyataannya kita jauh..

Siapa yang menyangka??
Sebuah keinginan yang mungkin mustahil dicipta Tuhan..
Harapan yang tak kan pernah ada dalam cerita..
Aku hanya ingin melihat pelangi di tengah terik sang mentari..
Sampai kita benar-benar bersatu..
Tak lagi didunia raga..

Sampai kapan perahu rapuh ini berlabuh??
Melewati setiap ombak kehidupan..
Pada tiap-tiap malam..
Sampai kita tertidur lelap..
Hingga menemukan si Laela bergandengan tangan mesra dengan Qais kekasihnya..

Aaahhh,,,
Cinta yang mendalam..
Selalu muncul dalam hal-hal murah dan sederhana..

Senin, 19 Januari 2015

Air Terjun Tuwondo

Air terjun Tuwondo bagian atas
 Belum banyak yang mengetahui kalau ada destinasi alam yang tersembunyi dari sudut pinggiran kota. Ya, berawal dari info teman yang berdomisili tak jauh dari lokasi, akupun segera bergegas membuktikan kebenarannya. Dimulailah pada tanggal 7 Januari 2015 aku dan salah satu temen ku mensurvey lokasi air terjun Tuwondo yang terletak di desa Banyakan Piyungan Bantul Yogyakarta.

Tidak susah untuk segera sampai ke lokasi tersebut. Cukup 10 menit dari rumahku yang tidak jauh dari lokasi air terjun Tuwondo. Akses jalan untuk menuju lokasi juga sudah memadai untuk dilalui kendaraan bermotor.

Setiba dilokasi kami disambut oleh beberapa warga setempat yang sedang melakukan kerja bakti pembuatan area parkir kendaraan. Hmmm, rupanya belum begitu terjamah oleh para pengunjung. Setidaknya seperti itulah yang dikatakan oleh salah satu warga yang kami ajak ngobrol.

Obrolanpun kami sudahi karena kami sudah tidak sabar untuk segera melihat air terjun yang mulai menjadi perbincangan banyak orang di dunia maya. Cuuusss kita berjalan kaki dari lokasi tempat parkir menuju air terjun. Tidak jauh lah, sekitar 300 m kami berjalan. Setiba di lokasi air terjun kami pun langsung mulai loncat sana loncat sini memastikan serta mencari tempat yang asik jika besok kami datang lagi dengan mengajak personel yang lebih banyak.  Alhasil di lokasi air terjun ini kami menyimpulkan bahwa, kurang nyaman dan kurang asik jika untuk acara seru-seruan dengan jumlah personel yang banyak.

Dan kami pun memutuskan untuk menuju ke air terjun yang bagian atas. cukup jauh untuk sampai kelokasi air terjun yang bagian atas. Tetapi terbayar sudah jika sudah sampai kelokasi ini. Disini di bagian air terjun yang paling atas kami bisa melepaskan rasa lelah dan penasaran kami. Tanpa pikir panjang kami pun segera menuju tepat dibawah guyuran air terjun. Woooowww,, tak terbayangkan kita bisa mandi serta bermain air di daerah perbukitan yang notabene hanya bisa dinikmati pada musim penghujan saja. Karena jika datang kesini pada musim kemarau kemungkinan debit air dari atas sangat sedikit, sehingga air terjun ini hanya bisa dinikmati jika musim penghujan tiba.

Dan disini pun jika kalian mau bebakaran juga bisa dilakukan. Kamipun juga sudah menyiapkan amunisi untuk mengisi perut kami. Yeeaacchhh,, roti tawar, selai, meses, serta pop mie pun sudah siap. Kami segera mencari kayu untuk membuat perapian dan memasak air panas untuk menyeduh pop mie. Jangan lupa bawa stock air putih yang banyak ya, karena air disini keruh jadi tidak bisa kita masak heheheee. Tak ada yang imposible bagi kami.

Ohh iya gaes, diatas air terjun ini kita pun bisa melihat pemandangan dari atas bukit ini loh. Kalau cuaca sedang cerah kita bisa melihat gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Candi Prambanan, Kalasan juga. Dan tentunya sangat nikmat dan paling tepat jika pada senja hari. Dan tak hanya sampai disini, kami pun masih melanjutkan perjalanan kami menuju atas bukit ini. Dan kami pun menemukan tempat yang lumayan asikk buat berfoto-foto atau sekedar menceburkan diri di kubangan air ini. Tapi perlu diingat ada satu kubangan yang ternyata lumayan dalam, kedalaman sekitar 2 meter.
 
Yuuppp,, bagi kalian yang mau berkunjung ke air terjun Tuwondo jangan lupa sempatkan naik keatas. Dan disini ada beberapa lokasi yang bisa kalian nikmati, selain air terjun yang berada dibawah. Dan yang paling penting adalah " Jaga Kebersihan, dan tentunya juga harus Extra Berhati - hati karena akses untuk menuju ke atas sangat licin dan adanya binatang yang tentunya tidak ingin kalian jumpai seperti ular dan luwing.
 
Welcome To Air Terjun Tuwondo

 
Air terjun Tuwondo bagian bawah

Air terjun Tuwondo bagian bawah

Air terjun Tuwondo bagian atas

Air terjun Tuwondo bagian atas sendiri

Air terjun Tuwondo bagian atas sendiri

Disini bagian atas kita bisa bebakaran 

ini berada diatas nya air terjun

Ini kedalaman mencapai 2 meter ( hati-hati )

Pemandangan yang bisa kita nikamti dari atas bukit
-Begawan C.N.T
-Kang Pitoe Juragan Pin
-Ndro S
-Rara Rizwana
-Prita
-Dphelicious

Sabtu, 10 Januari 2015

Perjalanan Spiritual (Part 3)


Perjalanan Spiritual (Part 3)

Di tempat inilah rumah Mbah Yai yang berupa gubug gedeg yang sudah lapuk aku "Ngudi Kawruh" menimba ilmu bahasa inteleknya. Sudah 7 bulan aku merguru pada Mbah Yai, dan selama 7 bulan itu aku hanya datang 4 kali. Toh gak ada aturan atau jadwal rutinitas. Semua aturan serta jadwal aku sepenuhnya yang membuat. Disini belum aku temukan "wejangan" Mbah Yai yang ngeri-ngeri seperti uztad-uztad yang ceramah di televisi atau pengajian majelis taklim yang sering gembar gembor soal siksa dan azab yang pedih. Dan belum juga aku mendengar wejangan Mbah Yai yang mengumbar janji-janji Tuhan soal kenikmatan atau iming-iming semacam MLM.

Aku hanya menangkap bagaimana Mbah Yai mulai mendoktrin ku agar bisa merubah karakter kepribadian serta mengolah rasa hawa nafsu agar aku tidak dikuasainya.
"Tolong ngger ke dapur ambil singkong rebus dan kopi bawa kemari. perintah Mbah Yai.
"Inggih yai. Bergegas aku pergi ke dapur sesuai dengan perintah Mbah Yai. Dan singkong rebus serta kopi 2 gelas aku bawa ke depan teras.
"Monggo Yai singkong dan kopinya.
Mbah Yai pun segera menyeruput kopi panas yang sudah tersaji. Begitu menikmati sekali Mbah Yai. Seperti tanpa beban tanpa seonggok permasalahan yang ada dibenaknya.
"Yai, adakah persamaan antara jaman Kanjeng Nabi dengan jaman sekarang?
"Kenapa kamu tanya itu ngger?
"Saya tidak tahu Yai.
"Begini ngger, jaman Nabi dengan jaman sekarang itu tidak jauh berbeda. Sama-sama takut dengan uang ngger. Manusia lebih takut tidak memiliki atau mendapatkan uang dari pada mendapatkan Ridho Tuhan ngger. Yang membedakan cuma peradaban saja.

Sampai situ Mbah Yai tidak melanjutkan perkataannya lagi. Lagi-lagi aku disuruh berfikir sendiri. Meresapi, memaknai sendiri. Sampai batas nalar, logika dan daya pikir ku sudah mentok baru aku bertanya pada Mbah yai. Ahhh,, ngopi dulu saja, tetap aku nikmati kopi dingin ini serta singkong rebus yang tak kalah dingin pula.

Minggu, 04 Januari 2015

Perjalanan Spiritual (Part 2)


Perjalanan Spiritual (Part 2)

"Gimana ngger sudah bersahabat karib dengan sifat-sifat buruk mu itu?
"Sampun Yai, malah aku sekarang sudah bisa bercanda dengan sifat-sifat buruk ku ini, aku sudah benar-benar menikmatinya.
"Bagus, kamu ternyata bisa cepat bergaul. Sebuah prestasi yang membanggakan, seorang terpelajar saja belum tentu bisa.
"Kenapa Yai?
"Ya, karena orang-orang yang terpelajar orang-orang yang notabene berintelek tidak pernah mendapat mata kuliah seperti ini. Mereka terus dijejali dengan teori-teori duniawi, kata-kata motivator yang mempunyai struktur pola kalimat yang indah, serta ambisi untuk menggenggam dunia.
"Bukankah mereka juga belajar untuk memperjuangkan hidup Yai?
"Betul ngger, mereka tetap memperjuangkan hidup. Tetapi mereka banyak yang terjebak dalam lingkaran paradigma kehidupan hitam. Mereka tidak tahu ilmu yang terkandung dalam semesta. Mereka pintar ngger, bertahun-tahun mereka habiskan waktu untuk belajar dan belajar yang menjadi tujuan hidupnya. Perhatikan saja ngger, setelah mereka lulus mereka sibuk dengan pertarungan dengan dunia untuk mencari pekerjaan. Mereka malu jika harus melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan ijazahnya. Padahal sejatinya orang belajar itu bukan untuk memperjuangkan hidup, melainkan untuk memperkaya olah rasa, olah karsa, olah cipta yang sudah melekat dalam diri manusia. Manusia harus memahami itu dahulu ngger. Wes adzan magrib ngger, simbah mau berangkat ke mushola dulu kalau kamu boleh ikut tidak ikut pun juga tak apa-apa, terserah kamu ngger.
"Aku masih ingin menikmati syahdunya senja di sini Yai, dan aku masih enggan untuk menjalankan apa yang sudah diwajibkan Sang Pencipta.

Sembari menunggu Mbah Yai pulang dari mushola, aku menikmati sebatang rokok yang slalu setia menemani ku. Buulllllll,, asap rokok yang keluar dari mulut dan hidung terasa nikmat dipadukan dengan segelas kopi yang sudah dingin. Begitu indah dunia ini, begitu syahdunya. Sehingga banyak orang yang lupa akan firman Tuhan. Ahhh masa bodoh ajj, ngapain juga memikirkan orang lain. Toh itu urusan mereka dengan Tuhannya.

Keheranan ku pun mulai muncul tatkala ingat perkataan Mbah yai barusan. Kenapa manusia rela bertahun-tahun hanya untuk belajar dan rela membayar jutaan bahkan ratusan juta? Padahal Al-Quran adalah sumber dari ilmu, dan banyak ilmu dunia ini yang terkandung dalam Al-Quran. Ahh jaman sudah berubah kok, ini jaman digital bukan jaman dinasti Kanjeng Nabi ataupun jaman Khalifah. Mereka tak perlu lagi repot-repot menghafal Al-Quran, cukup membacanya sesekali kalau ada waktu luang saja. Yang penting Karir prioritas utama, agar semakin menumpuk pundi-pundi rupiah yang ada dalam rekening mereka. Ahhh preekkk tai asu. Ya mungkin seperti itulah dinamika kehidupan era digital saat ini. Sesekali sedekah, sesekali ikut majelis taklim. Itu sudah cukup sebagai bekal di akherat kelak. Yang penting lulus jadi sarjana, master, doctor atau profesor dan bisa berkarir didunia kerja yang bergengsi.

Sabtu, 03 Januari 2015

Perjalanan Spiritual (Part 1)

Perjalan Spiritual (Part 1)

Mungkin setiap orang mempunyai suatu peristiwa perjalanan spiritualnya tersendiri. Tak lepas itu dari tuntutan, faktor lingkungan, ataupun kehendak hati nurani yang bersangkutan. Sungguh perjalanan spiritual adalah suatu perjalanan yang luar biasa menggetarkan setiap relung tulang dan persendian. Tak luput dari mereka yang berbondong-bondong "Nyantri" di pondok pesantren yang terkenal terkemuka yang melahirkan banyak tokoh-tokoh penting dalam negara ini.

Jauh berbeda dengan perjalanan spiritual yang aku alami. Dengan masa lalu yang begitu kelam menggulung hati nurani ku. Entah apa saja kemaksiatan yang tak bisa kujabarkan. Andai sang Malaikat Atid membukakan buku pencatat amal ku, niscaya aku akan segera bertaubat kala itu. Bukan hal mudah untuk mengarungi masa transisi ini. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang kutaksir berusia 60-an tahun. Pertemuan yang tak disengaja tetapi ini awal yang sanggup merubah perjalanan hidup ku. Mbah Yai, yah aku biasa memanggil beliau dengan sebutan Mbah Yai. Sesosok yang sederhana, santun, arif, serta bijaksana dengan segudang "kawruh" (ilmu).

Aku mulai rajin mengaji serta berguru kepada Mbah Yai, ya seperti santri yang belajar dalam kelas pondok pesantren. Tetapi disini jelas dan jauh berbeda dari materi yang diajarkan oleh kiai-kiai ataupun uztad-uztad yang mengajar di pondok pesantren. Disini selalu diajarkan dengan apa itu kehidupan. Bukan diajarkan dengan apa itu Ketuhanan ataupun materi agama dasar yang biasa dijarkan di pondok. Disini tidak ada aturan yang mengikat, aturan yang membuat aku sendiri. Ya seperti itu kata Mbah Yai. Karena aturan itu yang hakiki hanya aturan Tuhan. Aku bisa leluasa kapan aku mau mulai belajar, kapan aku masuk.

Pelajaran pertama yang aku dapat dan aku tangkap adalah bagaimana kita membiasakan diri berteman dengan amarah, sakit hati, kekecewaan, keegoisan, dan keangkuhan. Ya, aku disuruh untuk berteman dengan semua sifat-sifat negatif ku. Bukan perkara mudah ternyata. 6 bulan aku mencoba belajar dan membiasakan diri berteman dengan segala sifat - sifat buruk tersebut. Bukankah kita manusia? Yang mempunyai hawa nafsu. Banyak memang pepatah yang sering ku dengar " Seorang pemenang adalah yang bisa menglahkan dirinya sendiri". Bulshit, persetan, preeekkkk, tai asu, jancuk, asu bajingan dengan pepatah tersebut.

Dan yang lebih asu lagi, aku mulai terjebak dengan suasana materi dari Mbah Yai. Aku mulai terbiasa, aku mulai bisa menikmati, aku mulai bisa bersahabat dengan segala sifat jelek manusia yang ku miliki. Ahhhh, Assuuuu tenan iki. Sering aku mengumpat seperti itu, dan Mbah Yai pun hanya tersenyum kecil. Senyum yang sulit ku artikan. Padahal aku dikenal dengan orang yang pandai serta lihai dalam hal membaca mata serta senyum seseorang. Tetapi baru kali ini aku menemukan orang yang benar-benar tak bisa ku baca pancaran bola matanya, pendaran senyumnya.

"Wes ngger, nek ra kuat ojo ditutukke, ndhak malah dadi kepikiran.
"Mboten Mbah, wejangane Simbah badhe kulo pungkasi sak tekane laku kulo.
Mbah Yai hanya tersenyum kecil lalu berjalan meninggalkan ku. Ah sialan,,,

Kamis, 01 Januari 2015

Mengingat Sumpah

Mengingat Sumpah

Hampir 2 tahun aku menelan kehidupan di Tanah Mataram setelah sekian tahun berjuang di tanah rantau. Getir kehidupan yang pahit dan penuh liku kekerasan, intimidasi dan kemaksiatan. Kuarungi dengan segala cara. Bermodal kenalan lama aku diajak bertarung dengan berbagai macam keganasan Ibu Kota. Ya, tentu dengan bermodal pekerjaan yang bisa dibilang mapan dengan berbagai macam fasilitas yang kudapat. Serta berbagai macam kenalanku yang cukup mempunyai potensi sebagai backingan. Hidup layaknya mafia ibu kota, dengan gagah selalu kusarangkan sepucuk senpi Baretta F92 yang selalu menemani setiap liku kekerasan yang kualami.

Bukan perkara mudah meninggalkan jalan hitam yang sudah bertahun-tahun kugeluti. Mati ditanah orang pun aku tak sudi. Hari yang bersejarah kala itu selayaknya revolusi kemerdekaan bagiku. Pagi yang cerah kala itu, serangkaian Taksaka Malam menghantarkan kepulanganku di Tanah Mataram. Dan sejak untuk kesekian kalinya aku menginjakkan kakiku ditanah ini, dan ini untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah bersumpah untuk tetap abadi disini. Apapun yang akan terjadi aku akan tetap setia dengan jejak leluhur yang lama. Dan tak mudah ternyata menelan sumpah. Bertahun - tahun pula aku digoda agar terusir dari kota ini. Tapi aku tetap tak akan meninggalkan  tanah ini untuk waktu yang lama lagi. Mau Merapi berkobar, tanah retak, laut bergejolak. Tetap aku mengikat sumpahku itu. Biarlah kelak aku akan berabu disini.

Disini pula aku belajar kesederhanaan, kearifan dengan segala kerendahan hati setiap sudut kota ini. Walau aku menemui sepi yang panjang. Yang abadi, dan mau tak mau harus bersunyi - sunyi dalam sepi. Agar terus tak tertekan kehilangan. Sebab api dari neraka ini tak boleh padam. Harus kujaga demi kesadaran dan terus terjaga. Memelihara adanya api neraka dikota ini. Berarti harus siap dengan dharma dan sumpah bakti mengabdi pada sumpah janji. Sebab karena api neraka sang Begawan kembali diingatkan ada beban lemah yang harus diangkut, ada suara yang tak terdengar yang harus diangkat dan yang terbuai tipuan harus dibangunkan.

Sekali lagi bukan perkara mudah, apalagi bekerja dalam sepi. Ditambah rindu yang memuncak hanya dihempaskan oleh udara. Tak apalah, Sumpah pahit ini tetap harus kugigit. Agar besok kelak entah dimana. Aku bisa berteriak " Hai Api Neraka " ini aku yang tertatih - tatih penuh luka, penuh rasa sakit menunaikan janjiku. Sebagai bukti bahwa aku tak pernah mundur sejengkal sekalipun. Sejengkal sumpah aku tanam. Pada Tanah Mataram, awal tahun 2013. Ketika keindahan dan rasa sesak karena bahagia berbaur jadi satu.