Sabtu, 10 Januari 2015
Perjalanan Spiritual (Part 3)
Perjalanan Spiritual (Part 3)
Di tempat inilah rumah Mbah Yai yang berupa gubug gedeg yang sudah lapuk aku "Ngudi Kawruh" menimba ilmu bahasa inteleknya. Sudah 7 bulan aku merguru pada Mbah Yai, dan selama 7 bulan itu aku hanya datang 4 kali. Toh gak ada aturan atau jadwal rutinitas. Semua aturan serta jadwal aku sepenuhnya yang membuat. Disini belum aku temukan "wejangan" Mbah Yai yang ngeri-ngeri seperti uztad-uztad yang ceramah di televisi atau pengajian majelis taklim yang sering gembar gembor soal siksa dan azab yang pedih. Dan belum juga aku mendengar wejangan Mbah Yai yang mengumbar janji-janji Tuhan soal kenikmatan atau iming-iming semacam MLM.
Aku hanya menangkap bagaimana Mbah Yai mulai mendoktrin ku agar bisa merubah karakter kepribadian serta mengolah rasa hawa nafsu agar aku tidak dikuasainya.
"Tolong ngger ke dapur ambil singkong rebus dan kopi bawa kemari. perintah Mbah Yai.
"Inggih yai. Bergegas aku pergi ke dapur sesuai dengan perintah Mbah Yai. Dan singkong rebus serta kopi 2 gelas aku bawa ke depan teras.
"Monggo Yai singkong dan kopinya.
Mbah Yai pun segera menyeruput kopi panas yang sudah tersaji. Begitu menikmati sekali Mbah Yai. Seperti tanpa beban tanpa seonggok permasalahan yang ada dibenaknya.
"Yai, adakah persamaan antara jaman Kanjeng Nabi dengan jaman sekarang?
"Kenapa kamu tanya itu ngger?
"Saya tidak tahu Yai.
"Begini ngger, jaman Nabi dengan jaman sekarang itu tidak jauh berbeda. Sama-sama takut dengan uang ngger. Manusia lebih takut tidak memiliki atau mendapatkan uang dari pada mendapatkan Ridho Tuhan ngger. Yang membedakan cuma peradaban saja.
Sampai situ Mbah Yai tidak melanjutkan perkataannya lagi. Lagi-lagi aku disuruh berfikir sendiri. Meresapi, memaknai sendiri. Sampai batas nalar, logika dan daya pikir ku sudah mentok baru aku bertanya pada Mbah yai. Ahhh,, ngopi dulu saja, tetap aku nikmati kopi dingin ini serta singkong rebus yang tak kalah dingin pula.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar