Mengingat Sumpah
Hampir 2 tahun aku menelan kehidupan di Tanah Mataram setelah sekian tahun berjuang di tanah rantau. Getir kehidupan yang pahit dan penuh liku kekerasan, intimidasi dan kemaksiatan. Kuarungi dengan segala cara. Bermodal kenalan lama aku diajak bertarung dengan berbagai macam keganasan Ibu Kota. Ya, tentu dengan bermodal pekerjaan yang bisa dibilang mapan dengan berbagai macam fasilitas yang kudapat. Serta berbagai macam kenalanku yang cukup mempunyai potensi sebagai backingan. Hidup layaknya mafia ibu kota, dengan gagah selalu kusarangkan sepucuk senpi Baretta F92 yang selalu menemani setiap liku kekerasan yang kualami.
Bukan perkara mudah meninggalkan jalan hitam yang sudah bertahun-tahun kugeluti. Mati ditanah orang pun aku tak sudi. Hari yang bersejarah kala itu selayaknya revolusi kemerdekaan bagiku. Pagi yang cerah kala itu, serangkaian Taksaka Malam menghantarkan kepulanganku di Tanah Mataram. Dan sejak untuk kesekian kalinya aku menginjakkan kakiku ditanah ini, dan ini untuk yang terakhir kalinya. Aku sudah bersumpah untuk tetap abadi disini. Apapun yang akan terjadi aku akan tetap setia dengan jejak leluhur yang lama. Dan tak mudah ternyata menelan sumpah. Bertahun - tahun pula aku digoda agar terusir dari kota ini. Tapi aku tetap tak akan meninggalkan tanah ini untuk waktu yang lama lagi. Mau Merapi berkobar, tanah retak, laut bergejolak. Tetap aku mengikat sumpahku itu. Biarlah kelak aku akan berabu disini.
Disini pula aku belajar kesederhanaan, kearifan dengan segala kerendahan hati setiap sudut kota ini. Walau aku menemui sepi yang panjang. Yang abadi, dan mau tak mau harus bersunyi - sunyi dalam sepi. Agar terus tak tertekan kehilangan. Sebab api dari neraka ini tak boleh padam. Harus kujaga demi kesadaran dan terus terjaga. Memelihara adanya api neraka dikota ini. Berarti harus siap dengan dharma dan sumpah bakti mengabdi pada sumpah janji. Sebab karena api neraka sang Begawan kembali diingatkan ada beban lemah yang harus diangkut, ada suara yang tak terdengar yang harus diangkat dan yang terbuai tipuan harus dibangunkan.
Sekali lagi bukan perkara mudah, apalagi bekerja dalam sepi. Ditambah rindu yang memuncak hanya dihempaskan oleh udara. Tak apalah, Sumpah pahit ini tetap harus kugigit. Agar besok kelak entah dimana. Aku bisa berteriak " Hai Api Neraka " ini aku yang tertatih - tatih penuh luka, penuh rasa sakit menunaikan janjiku. Sebagai bukti bahwa aku tak pernah mundur sejengkal sekalipun. Sejengkal sumpah aku tanam. Pada Tanah Mataram, awal tahun 2013. Ketika keindahan dan rasa sesak karena bahagia berbaur jadi satu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar