Begitu banyak mimpi-mimpi dan harapan masa lalu yang akhirnya pelan-pelan pudar seiring bertambahnya usia. Salah satunya tentang harapan sebuah pernikahan impian bersama calon istriku kelak. Bukannya tak berusaha untuk mewujudkannya, tapi pada realitanya tak semua hal yang aku inginkan bisa terwujud. Mau tak mau, suka tak suka, inilah hukum alam yang harus dengan ikhlas ku terima.
Dengarlah wahai calon istriku.
Jangan takut menikah denganku hanya karena aku tak sanggup menjadikan pernikahan impianmu menjadi sebuah kenyataan.
tahukah wahai calon istriku?
Aku memimpikan sebuah lamaran yang romantis beserta kejutan manis yang tak pernah kau duga. Dilengkapi dengan sebuah dokumentasi agar nanti kita bisa melihat ekspresimu kembali saat kau kupinta menjadi teman hidupku. Aku ingin melamar dengan cara manis dan tak biasa. Mungkin dengan balon warna-warni atau bunga mawar yang indah dengan sebuah cincin yang terselip diantaranya. Akan, tetapi seiring bertambahnya usia aku sadar, toh keinginanku yang mungkin sedikit berlebihan itu tak mudah untuk terjadi. Aku sadar betul ada keterbatasan waktu dan biaya, atau saja memamg aku kurang begitu romantis. Tapi aku punya caraku sendiri untuk meminangmu. Maka biarkanlah semua mengalir seadanya saja. Namun satu hal pasti yang selalu kuinginkan untuk terwujud adalah, wanita cantik nan manis yang ku datangi untuk ku lamar adalah dirimu.
Yacchh, aku ingin pernikahan sederhana dengan tema vintage dan mengundang orang-orang terdekat saja. Mungkin itu akan terlihat manis dan elegan. Tapi itu tentu saja tak mudah terealisasi. Bagaimanapun juga orang tuamu pasti menginginkan acara yang berbeda. Mereka pasti menginginkan pernikahan yang sewajarnya saja, yang syarat dengan prosesi adat istiadat kita. padahal aku ingin pesta kita nanti bisa kita dekorasi sesuai dengan imajinasi kita. Dengan tambahan ornamen yang unik sebagai penghias pelaminan kita kelak. Cukup dengan 2 buah kursi sederhana yang dihiasi dengan sederhana akan lebih manis daripada pelaminan dengan harga yang berjuta-juta. Seandainya mimpiku ini tak jadi nyata, toh aku pernah berimajinasi tentangnya.
Ketika acara sederhana nan sakral itu usai, aku ingin mengajakmu pergi menjelajah surga bersamamu. Honeymoon - begitulah orang-orang menyebutnya. Aku ingin menghabiskan waktu dipinggir pantai menikmati waktu kita penuh dengan romansa, bangun disampingmu sambil mendengar deburan ombak dan memotret kenangan indah kita hingga sang surya pamit dari hadapan kita.
Tunggu, bisakah keinginanku itu terwujud?
Aaahhh, lagi-lagi keinginan itu mungkin tak juga bisa terwujud. Aku lupa kalau aku terbentur masalah waktu dan biaya. Aku hanya seorang karyawan biasa yang diharuskan patuh pada peraturan tempat ku mencari penghidupan. Mungkin tak banyak waktu yang bisa kita nikmati berdua.
Toh, pernikahan bukan perkara bulan madu. Kalaupun kita tak punya waktu untuk honeymoon, aku tak akan pernah mendustai kenikmatan yang sudah Tuhan berikan padaku, yaitu menjadi imammu dan ayah bagi anakku nanti.
Hhhmmm, aku ingin mempunyai dan mempersembahkan untuk mu sebuah istana mungil dengan 2 kamar tidur dan segala perabot yang sudah tertata rapi didalamnya. Tapi, lagi-lagi impianku itu terbentur dengan realita yang ada. Aku sadar aku bukan orang dengan kebebasan finasial diatas rata-rata. Bahkan aku harus berusaha memeras keringat untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi mewujudkan impian kita untuk menikah. Tapi tenanglah wahai calon istriku, aku senantiasa berkorban dan berjuang untuk menghidupimu dengan layak. Untuk masa depan anak-anak kita kelak. Keringat ini cukup sebagai semangatku, lelahku ini cukup sebagai cambuk untuk bangkit, dan kamu wahai calon istriku cukup sebagai lentera hati ku.
Yang kuharapkan darimu cukup satu wahai calon istriku.
Selama kau dan aku selalu berusaha dan berjibaku untuk mewujudkannya. Bukankah akan lebih manis jika kita mengalami banyak proses hidup bersama-sama ? Bagiku rumah ternyaman dan selalu jadi impianku adalah dirimu. Kaulah rumah yang selalu bisa menghangatkan keluarga kecil kita nanti.
Tapi satu impian yang selalu diam-diam kupanjatkan dalam doa, yaitu menjadi imammu bisa terwujud dan jadi nyata. Yaaa, semoga doa dan mimpiku itu bisa terwujudkan. Semoga kita bisa merangkai mimpi-mimpi kita berdua dengan ikatan pernikahan kita nanti. Semoga Allah mengijinkannya..

