Sabtu, 04 April 2015

Untukmu Wahai Tulang Rusukku



Begitu banyak mimpi-mimpi dan harapan masa lalu yang akhirnya pelan-pelan pudar seiring bertambahnya usia. Salah satunya tentang harapan sebuah pernikahan impian bersama calon istriku kelak. Bukannya tak berusaha untuk mewujudkannya, tapi pada realitanya tak semua hal yang aku inginkan bisa terwujud. Mau tak mau, suka tak suka, inilah hukum alam yang harus dengan ikhlas ku terima.

Dengarlah  wahai calon istriku.
Jangan takut menikah denganku hanya karena aku tak sanggup menjadikan pernikahan impianmu menjadi sebuah kenyataan.

tahukah wahai calon istriku?
Aku memimpikan sebuah lamaran yang romantis beserta kejutan manis yang tak pernah kau duga. Dilengkapi dengan sebuah dokumentasi agar nanti kita bisa melihat ekspresimu kembali saat kau kupinta menjadi teman hidupku. Aku ingin melamar dengan cara manis dan tak biasa. Mungkin dengan balon warna-warni atau bunga mawar yang indah dengan sebuah cincin yang terselip diantaranya. Akan, tetapi seiring bertambahnya usia aku sadar, toh keinginanku yang mungkin sedikit berlebihan itu tak mudah untuk terjadi. Aku sadar betul ada keterbatasan waktu dan biaya, atau saja memamg aku kurang begitu romantis. Tapi aku punya caraku sendiri untuk meminangmu. Maka biarkanlah semua mengalir seadanya saja. Namun satu hal pasti yang selalu kuinginkan untuk terwujud adalah, wanita cantik nan manis yang ku datangi untuk ku lamar adalah dirimu.

Yacchh, aku ingin pernikahan sederhana dengan tema vintage dan mengundang orang-orang terdekat saja. Mungkin itu akan terlihat manis dan elegan. Tapi itu tentu saja tak mudah terealisasi. Bagaimanapun juga orang tuamu pasti menginginkan acara yang berbeda. Mereka pasti menginginkan pernikahan yang sewajarnya saja, yang syarat dengan prosesi adat istiadat kita. padahal aku ingin pesta kita nanti bisa kita dekorasi sesuai dengan imajinasi kita. Dengan tambahan ornamen yang unik sebagai penghias pelaminan kita kelak. Cukup dengan 2 buah kursi sederhana yang dihiasi dengan sederhana akan lebih manis daripada pelaminan dengan harga yang berjuta-juta. Seandainya mimpiku ini tak jadi nyata, toh aku pernah berimajinasi tentangnya.

Ketika acara sederhana nan sakral itu usai, aku ingin mengajakmu pergi menjelajah surga bersamamu. Honeymoon - begitulah orang-orang menyebutnya. Aku ingin menghabiskan waktu dipinggir pantai menikmati waktu kita penuh dengan romansa, bangun disampingmu sambil mendengar deburan ombak dan memotret kenangan indah kita hingga sang surya pamit dari hadapan kita.

Tunggu, bisakah keinginanku itu terwujud?
Aaahhh, lagi-lagi keinginan itu mungkin tak juga bisa terwujud. Aku lupa kalau aku terbentur masalah waktu dan biaya. Aku hanya seorang karyawan biasa yang diharuskan patuh pada peraturan tempat ku mencari penghidupan. Mungkin tak banyak waktu yang bisa kita nikmati berdua.

Toh, pernikahan bukan perkara bulan madu. Kalaupun kita tak punya waktu untuk honeymoon, aku tak akan pernah mendustai kenikmatan yang sudah Tuhan berikan padaku, yaitu menjadi imammu dan ayah bagi anakku nanti.

Hhhmmm, aku ingin mempunyai dan mempersembahkan untuk mu sebuah istana mungil dengan 2 kamar tidur dan segala perabot yang sudah tertata rapi didalamnya. Tapi, lagi-lagi impianku itu terbentur dengan realita yang ada. Aku sadar aku bukan orang dengan kebebasan finasial diatas rata-rata. Bahkan aku harus berusaha memeras keringat untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi mewujudkan impian kita untuk menikah. Tapi tenanglah wahai calon istriku, aku senantiasa berkorban dan berjuang untuk menghidupimu dengan layak. Untuk masa depan anak-anak kita kelak. Keringat ini cukup sebagai semangatku, lelahku ini cukup sebagai cambuk untuk bangkit, dan kamu wahai calon istriku cukup sebagai lentera hati ku.

Yang kuharapkan darimu cukup satu wahai calon istriku.
Selama kau dan aku selalu berusaha dan berjibaku untuk mewujudkannya. Bukankah akan lebih manis jika kita mengalami banyak proses hidup bersama-sama ? Bagiku rumah ternyaman dan selalu jadi impianku adalah dirimu. Kaulah rumah yang selalu bisa menghangatkan keluarga kecil kita nanti.

Tapi satu impian yang selalu diam-diam kupanjatkan dalam doa, yaitu menjadi imammu bisa terwujud dan jadi nyata. Yaaa, semoga doa dan mimpiku itu bisa terwujudkan. Semoga kita bisa merangkai mimpi-mimpi kita berdua dengan ikatan pernikahan kita nanti. Semoga Allah mengijinkannya..

Jumat, 03 April 2015

Untukmu Yang Kemarin Bertambah Usia

Sebenarnya aku ingin membuatkan puisi untuk mu, sesuai dengan permintaanmu. Puisi yang so sweet. Tapi aku terus saja mencoba menuliskan pada 20 lembar kertas, tapi tak bisa ku rangkai puisi itu. Mungkin karena aku merasa kesulitan untuk menggambar sosok mu dan kutuangkan dalam karya puisi hahahahaaaaa.. Tapi itu benar adanya. Yach mau gimana lagi, puisi tak dapat ku tulis. Belum sebuah boneka meong yang kau pinta, hadecchh susahnya nyari boneka meong yang berukuran besar. Sampai malu pula aku keluar masuk toko boneka. Tapi tenang saja, klo ada waktu dan dah ketemu tak beliin. Toh ngak setiap bulan aku ngasih boneka ke kamu hahahaaa...
Tak sengaja aku baca artikel dari hipwee yang bagus sekali buat memotivasi diri sendiri, dan saat itu aku kepikiran buat berbagi artikel tersebut ke kamu sebagai pengganti puisi yang so sweet yang kamu pinta. Semoga kamu bisa memetik dan mengambil hikmah dari sepenggal artikel tersebut.





"Halo, diriku..
Apa kabarmu saat ini?
Apakah kamu masih sosok yang sama?
Sosok berkepala batu dengan ego yang selalu memenuhi udara?
Semoga saja tidak lagi."

Hai, ini aku, dirimu yang saat ini sedang tidak tenggelam dalam ego. Ya, aku menulis surat ini demi memperbaiki diriku sendiri. Aku ingin membuat kita tak lagi gemar menang sendiri sekaligus mengingatkan bahwa banyak orang di sekitaran yang tanpa kau sadari sudah kau abaikan. Lewat surat ini aku berusaha membantumu untuk tetap berpijak pada bumi dan mampu berbuat kebaikan selagi kamu masih bisa menghela udara.

Walau sering merasa dunia berlaku kurang adil padamu, sesungguhnya di sisi ada orang-orang yang begitu menyayangimu

Mungkin kamu belum menyadari benar bahwa dari sekian milyar manusia yang memenuhi bumi, kamu termasuk dalam golongan yang beruntung. Ya, kamu memiliki ayah, ibu, saudara, bahkan kawan yang selalu ada di sekitaran. Ada sosok ayah yang siap sedia banting tulang memenuhi semua kebutuhan. Ada pula ibu yang merawat dengan penuh kasih dan tak pernah alpa menuturkan wejangan, membuatmu selalu berada dalam jalur yang benar.
Selain orangtua, ada juga sosok saudara yang walaupun menyebalkan namun sebenarnya mereka benar-benar peduli pada keadaanmu. Ah, dan masihkah kamu ingat bahwa kamu selalu memiliki kawan di dalam hidupmu? Para sahabat yang selalu ada untuk berbagi dekap di saat hatimu terbelah menjadi dua. Mereka juga selalu sedia telinga, tak pernah jemu, walaupun kamu selalu mengulang cerita yang sama.
 
"Dengan banyaknya orang yang mencintaimu apa adanya, masihkah kamu merasa kurang beruntung sebagai manusia?"

Mereka dengan sabar menerima segala tingkah konyolmu sebagai manusia. Sementara kau justru sering memandang kebaikan mereka sebelah mata

Memang manusia tidak bisa meminta watak apa yang melekat pada dirinya ketika dilahirkan. Begitu pula kamu, kamu memang memiliki karakter keras. Bahkan terkadang orang-orang di sekitarmu harus berlapang dada untuk berhadapan dengan kepala batumu. Sadarkah kamu bahwa egomu selalu memegang kendali dan memenuhi udara?
Ya, kamu sering ingin menang sendiri. Terkadang kamu juga tenggelam ke dalam rasa iri yang sering membuatmu membenci teman tanpa alasan yang jelas. Saat ada beberapa teman yang berhasil meraih penghargaan kamu akan mengucapkan dengan hati setengah dan senyum yang tidak terlalu merekah.
Dipenuhi dengan orang-orang baik hati yang memiliki rasa tulus mencintaimu juga tidak membuatmu merasa lebih baik. Kamu justru merasa bahwa kebaikan yang mereka lakukan merupakan sebuah kewajiban. Sehingga kamu pun lebih gemar mengabaikan. Berpikir bahwa toh usia mereka semua masih panjang dan kamu bisa membalas segala kebaikan mereka kapan-kapan.

Kamu boleh merasa ingin menang sendiri. Tapi bukankah mereka juga punya hati?

Kamu mungkin tidak tahu betapa hati orang di sekitarmu selalu didera rasa sakit tiap kali kamu mengabaikan mereka. Ya, ibumu terluka tiap kali kamu selalu melontarkan alasan tidak bisa pulang ke kampung halaman. Begitu juga ayahmu, beliau kecewa ketika ragamu berada di rumah namun pikiranmu terhisap pada layar ponsel.
Tidak hanya mereka, saudaramu juga sebal ketika harus menghadapi sifatmu yang selalu kekanakan. Tahukah kamu, di usiamu yang sudah menginjak kepala dua ini harusnya kamu bisa menjadi contoh panutan? Ya, tidak seharusnya kamu ingin menang sendiri dan mengharuskan setiap orang menuruti segala keinginan.
Belum lagi ketika kamu justru mengabaikan sahabat-sahabat yang sudah begitu baiknya hadir di dalam hidupmu. Kamu sengaja mengaku sedang sibuk dan enggan menghabiskan waktu ketika mereka butuh kehadiranmu. Kamu lebih menikmati ketika mereka bisa diajak berbagi suka. Namun saat mereka ingin sedikit membagi duka, kamu langsung menyibukkan diri.

Maukah sekarang kau sedikit melunakkan kerasnya kepala? “Selamanya” bukan bilangan waktu yang sah di dunia. Kau perlu berubah sebelum penyesalan menyapa

Kamu hanya diberi kehidupan sekali ini saja. Bertemu dengan orang-orang yang selalu membuat hatimu bahagia juga tidak selamanya. Ya, kamu tidak tahu kapan masa mereka di dunia akan habis, kamu bahkan juga tidak tahu kapan kontrakmu di bumi akan disudahi.
Jadi, sebelum segalanya terlambat dan kamu dilumat penyesalan, maukah kamu berbesar hati melunakkan kerasnya kepalamu? Maukah kamu tak lagi mengabaikan mereka yang selalu berbuat baik padamu? Sebelum kamu tak lagi memiliki kesempatan. Berbagi kasihlah kepada ayah, ibu, saudara, serta kawan-kawanmu yang selama ini ada untukmu. Kamu tidak akan merugi, justru perasaan gembiralah yang akan memenuhi hati.

"Mulai sekarang berjanjilah kepada diri sendiri bahwa kamu tidak akan mengulang kesalahan yang sama demi kebahagiaan yang akan kamu petik di masa depan."

Selamat ulang tahun pesek, semoga makin dewasa sehat slalu, selalu dipermudah segala urusannya di dunia dan tentunya tambah gendut tambah pesek. Hahahahahaaa...
Ya itulah sepenggal cerita yang bisa aku bagi. Walaupun biasa saja dan tak spesial tak apalah, anggap saja untuk instropeksi diri. Soalnya juga dari orang biasa juga, hahahahaa... Dan semoga sudah ada yang special memberi yang special.. Hahaaaaa... Ok, keep spirit ajj pokoknya. Ohhh iyow, katanya kamu belum fasih baca Al-Quran ya?? aduuhh mesakke banget, suruh ngajarin kakak mu, kan lulusan pondok pesantren. hahahahaaa ppiiissssss...