Sabtu, 03 Januari 2015

Perjalanan Spiritual (Part 1)

Perjalan Spiritual (Part 1)

Mungkin setiap orang mempunyai suatu peristiwa perjalanan spiritualnya tersendiri. Tak lepas itu dari tuntutan, faktor lingkungan, ataupun kehendak hati nurani yang bersangkutan. Sungguh perjalanan spiritual adalah suatu perjalanan yang luar biasa menggetarkan setiap relung tulang dan persendian. Tak luput dari mereka yang berbondong-bondong "Nyantri" di pondok pesantren yang terkenal terkemuka yang melahirkan banyak tokoh-tokoh penting dalam negara ini.

Jauh berbeda dengan perjalanan spiritual yang aku alami. Dengan masa lalu yang begitu kelam menggulung hati nurani ku. Entah apa saja kemaksiatan yang tak bisa kujabarkan. Andai sang Malaikat Atid membukakan buku pencatat amal ku, niscaya aku akan segera bertaubat kala itu. Bukan hal mudah untuk mengarungi masa transisi ini. Hingga suatu ketika aku bertemu dengan seorang lelaki tua yang kutaksir berusia 60-an tahun. Pertemuan yang tak disengaja tetapi ini awal yang sanggup merubah perjalanan hidup ku. Mbah Yai, yah aku biasa memanggil beliau dengan sebutan Mbah Yai. Sesosok yang sederhana, santun, arif, serta bijaksana dengan segudang "kawruh" (ilmu).

Aku mulai rajin mengaji serta berguru kepada Mbah Yai, ya seperti santri yang belajar dalam kelas pondok pesantren. Tetapi disini jelas dan jauh berbeda dari materi yang diajarkan oleh kiai-kiai ataupun uztad-uztad yang mengajar di pondok pesantren. Disini selalu diajarkan dengan apa itu kehidupan. Bukan diajarkan dengan apa itu Ketuhanan ataupun materi agama dasar yang biasa dijarkan di pondok. Disini tidak ada aturan yang mengikat, aturan yang membuat aku sendiri. Ya seperti itu kata Mbah Yai. Karena aturan itu yang hakiki hanya aturan Tuhan. Aku bisa leluasa kapan aku mau mulai belajar, kapan aku masuk.

Pelajaran pertama yang aku dapat dan aku tangkap adalah bagaimana kita membiasakan diri berteman dengan amarah, sakit hati, kekecewaan, keegoisan, dan keangkuhan. Ya, aku disuruh untuk berteman dengan semua sifat-sifat negatif ku. Bukan perkara mudah ternyata. 6 bulan aku mencoba belajar dan membiasakan diri berteman dengan segala sifat - sifat buruk tersebut. Bukankah kita manusia? Yang mempunyai hawa nafsu. Banyak memang pepatah yang sering ku dengar " Seorang pemenang adalah yang bisa menglahkan dirinya sendiri". Bulshit, persetan, preeekkkk, tai asu, jancuk, asu bajingan dengan pepatah tersebut.

Dan yang lebih asu lagi, aku mulai terjebak dengan suasana materi dari Mbah Yai. Aku mulai terbiasa, aku mulai bisa menikmati, aku mulai bisa bersahabat dengan segala sifat jelek manusia yang ku miliki. Ahhhh, Assuuuu tenan iki. Sering aku mengumpat seperti itu, dan Mbah Yai pun hanya tersenyum kecil. Senyum yang sulit ku artikan. Padahal aku dikenal dengan orang yang pandai serta lihai dalam hal membaca mata serta senyum seseorang. Tetapi baru kali ini aku menemukan orang yang benar-benar tak bisa ku baca pancaran bola matanya, pendaran senyumnya.

"Wes ngger, nek ra kuat ojo ditutukke, ndhak malah dadi kepikiran.
"Mboten Mbah, wejangane Simbah badhe kulo pungkasi sak tekane laku kulo.
Mbah Yai hanya tersenyum kecil lalu berjalan meninggalkan ku. Ah sialan,,,

Tidak ada komentar: