Minggu, 04 Januari 2015
Perjalanan Spiritual (Part 2)
Perjalanan Spiritual (Part 2)
"Gimana ngger sudah bersahabat karib dengan sifat-sifat buruk mu itu?
"Sampun Yai, malah aku sekarang sudah bisa bercanda dengan sifat-sifat buruk ku ini, aku sudah benar-benar menikmatinya.
"Bagus, kamu ternyata bisa cepat bergaul. Sebuah prestasi yang membanggakan, seorang terpelajar saja belum tentu bisa.
"Kenapa Yai?
"Ya, karena orang-orang yang terpelajar orang-orang yang notabene berintelek tidak pernah mendapat mata kuliah seperti ini. Mereka terus dijejali dengan teori-teori duniawi, kata-kata motivator yang mempunyai struktur pola kalimat yang indah, serta ambisi untuk menggenggam dunia.
"Bukankah mereka juga belajar untuk memperjuangkan hidup Yai?
"Betul ngger, mereka tetap memperjuangkan hidup. Tetapi mereka banyak yang terjebak dalam lingkaran paradigma kehidupan hitam. Mereka tidak tahu ilmu yang terkandung dalam semesta. Mereka pintar ngger, bertahun-tahun mereka habiskan waktu untuk belajar dan belajar yang menjadi tujuan hidupnya. Perhatikan saja ngger, setelah mereka lulus mereka sibuk dengan pertarungan dengan dunia untuk mencari pekerjaan. Mereka malu jika harus melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan ijazahnya. Padahal sejatinya orang belajar itu bukan untuk memperjuangkan hidup, melainkan untuk memperkaya olah rasa, olah karsa, olah cipta yang sudah melekat dalam diri manusia. Manusia harus memahami itu dahulu ngger. Wes adzan magrib ngger, simbah mau berangkat ke mushola dulu kalau kamu boleh ikut tidak ikut pun juga tak apa-apa, terserah kamu ngger.
"Aku masih ingin menikmati syahdunya senja di sini Yai, dan aku masih enggan untuk menjalankan apa yang sudah diwajibkan Sang Pencipta.
Sembari menunggu Mbah Yai pulang dari mushola, aku menikmati sebatang rokok yang slalu setia menemani ku. Buulllllll,, asap rokok yang keluar dari mulut dan hidung terasa nikmat dipadukan dengan segelas kopi yang sudah dingin. Begitu indah dunia ini, begitu syahdunya. Sehingga banyak orang yang lupa akan firman Tuhan. Ahhh masa bodoh ajj, ngapain juga memikirkan orang lain. Toh itu urusan mereka dengan Tuhannya.
Keheranan ku pun mulai muncul tatkala ingat perkataan Mbah yai barusan. Kenapa manusia rela bertahun-tahun hanya untuk belajar dan rela membayar jutaan bahkan ratusan juta? Padahal Al-Quran adalah sumber dari ilmu, dan banyak ilmu dunia ini yang terkandung dalam Al-Quran. Ahh jaman sudah berubah kok, ini jaman digital bukan jaman dinasti Kanjeng Nabi ataupun jaman Khalifah. Mereka tak perlu lagi repot-repot menghafal Al-Quran, cukup membacanya sesekali kalau ada waktu luang saja. Yang penting Karir prioritas utama, agar semakin menumpuk pundi-pundi rupiah yang ada dalam rekening mereka. Ahhh preekkk tai asu. Ya mungkin seperti itulah dinamika kehidupan era digital saat ini. Sesekali sedekah, sesekali ikut majelis taklim. Itu sudah cukup sebagai bekal di akherat kelak. Yang penting lulus jadi sarjana, master, doctor atau profesor dan bisa berkarir didunia kerja yang bergengsi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar