RASA JADI KATA
Kali ini aku tahu apa peranku di dunia ini..
Aku adalah sang pemeran utama dalam kehidupan ku..
Ada sedih yang kupendam rapat-rapat..
Ada pedih yang kugenggam erat-erat..
Hingga mereka pikir aku adalah sosok yang kuat.. Nyatanya tidak..
Ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan-lahan mulai runtuh..
Ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan-lahan mulai meretak, dan mungkin sebentar lagi akan hancur..
Ada sakit hati yang tertahan, dan entah kapan akan tersalurkan..
Di layar kaca penuh pura-pura ini tersusun skenarioku tersenyum bahagia..
Diantara tak rela juga tak tega..
Aku sudah terbiasa menahan tangis sambil tersenyum manis..
Kamu tidak pernah tahu bukan????
Kuharap ada polisi rasa yang bisa memborgol metode pura-pura itu ke penjara..
Suruhlah para polisi itu menahannya,, agar jangan aku lagi yang jadi tahanannya..
Agar tiada lagi yang menaruh diam sebagai salah satunya alasan luka bisa diredam..
Agar raja terego sedunia bernama pura-pura saja yang tenggelam..
Aku tak pernah menyangka bahwa tak perlu banyak belajar untuk menjadi aktor sandiwara..
Cukup beri betubi-tubi luka,, dengan kesabaran sebagai topengnya..
Lalu dialog meyakinkan dan senyum selebar-lebarnya..
Aku tidak bermaksud menjadi yang palsu dihadapanmu..
Hanya saja, aku terlalu takut menemui kenyataan yang tak sesuai inginku..
Sebab bukan tak mungkin ketika nanti kamu tahu hatiku luka dan aku berharap kamu datang mengobati,, nyatanya kamu hanya menertawai..
Entah sudah seberapa berat beban yang harus kupikul,, namun dalam membungkusnya dengan topeng bahagia aku tampak paling unggul..
Entah sudah berapa tetes air mata yang seharusnya kutahan,, namun aku paling piawai dalam mengekspresikannya dengan senyuman..
Tidak semuanya tahu bahwa ada isak yang kupendap dalam diam..
Karena ketika mereka tahu pun,, belum tentu mereka peduli..
Hanya kepada Sang Maha,, tangisku tercurah tanpa sandiwara..
Dan hanya kepadaNya,, aku tahu bahwa pura-puraku hanyalah sia-sia..
Aku adalah sang pemeran utama dalam kehidupan ku..
Ada sedih yang kupendam rapat-rapat..
Ada pedih yang kugenggam erat-erat..
Hingga mereka pikir aku adalah sosok yang kuat.. Nyatanya tidak..
Ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan-lahan mulai runtuh..
Ada sesuatu di dalam diriku yang perlahan-lahan mulai meretak, dan mungkin sebentar lagi akan hancur..
Ada sakit hati yang tertahan, dan entah kapan akan tersalurkan..
Di layar kaca penuh pura-pura ini tersusun skenarioku tersenyum bahagia..
Diantara tak rela juga tak tega..
Aku sudah terbiasa menahan tangis sambil tersenyum manis..
Kamu tidak pernah tahu bukan????
Kuharap ada polisi rasa yang bisa memborgol metode pura-pura itu ke penjara..
Suruhlah para polisi itu menahannya,, agar jangan aku lagi yang jadi tahanannya..
Agar tiada lagi yang menaruh diam sebagai salah satunya alasan luka bisa diredam..
Agar raja terego sedunia bernama pura-pura saja yang tenggelam..
Aku tak pernah menyangka bahwa tak perlu banyak belajar untuk menjadi aktor sandiwara..
Cukup beri betubi-tubi luka,, dengan kesabaran sebagai topengnya..
Lalu dialog meyakinkan dan senyum selebar-lebarnya..
Aku tidak bermaksud menjadi yang palsu dihadapanmu..
Hanya saja, aku terlalu takut menemui kenyataan yang tak sesuai inginku..
Sebab bukan tak mungkin ketika nanti kamu tahu hatiku luka dan aku berharap kamu datang mengobati,, nyatanya kamu hanya menertawai..
Entah sudah seberapa berat beban yang harus kupikul,, namun dalam membungkusnya dengan topeng bahagia aku tampak paling unggul..
Entah sudah berapa tetes air mata yang seharusnya kutahan,, namun aku paling piawai dalam mengekspresikannya dengan senyuman..
Tidak semuanya tahu bahwa ada isak yang kupendap dalam diam..
Karena ketika mereka tahu pun,, belum tentu mereka peduli..
Hanya kepada Sang Maha,, tangisku tercurah tanpa sandiwara..
Dan hanya kepadaNya,, aku tahu bahwa pura-puraku hanyalah sia-sia..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar